Mereka yang Tak Tampak


Di dalam setiap masyarakat kita selalu ada yang “tak tampak”, di “pinggiran”. Seperti kata Ralph Ellison, “saya tak tampak, karena orang tak mau melihat saya”. Masyarakat kita terdiri dari mereka yang “tampak” dan “tak tampak”. Yang tampak dalam masyarakat kita adalah mereka yang berkuasa atas hajat hidup orang banyak. Siapa yang tak “tampak”? orang banyak. Bagian-bagian berikut yang akan saya tuliskan akan berkisah tentang kondisi kota Manado yang berbeda dari cerita-cerita saya di bagian yang lain. jika sebelumnya saya bercerita tentang hal-hal yang menarik minat orang, bagian-bagian yang selalu tampak begitu menggoda, maka di bagian ini saya akan menuliskan tentang hal-hal yang “tidak tampak”, sebagaimana saya menyebut judul tulisan ini. Hal-hal yang bagian sebagian orang tidak penting dan tampak tidak menarik, tapi sebenarnya justru adalah bagian penting yang sering diabaikan.

Sebelumnya, saya perlu menjelaskan terlebih dahulu kepada siapa saya merujuk istilah “Mereka yang tak tampak” di tengah-tengah hiruk pikuk kota Manado. penjelasan itu hanya dimungkinkan jika saya juga menjelaskan pertama-tama hal-hal “yang tampak” di kota Manado. kota Manado adalah kumpulan berbagai hal; gedung, masyarakat dan gaya hidup. Di sini, ada hal-hal “yang tampak”, sesuatu yang menjadi pusat perhatian orang, yang kadang menjadi identik dengan kota Manado itu sendiri. Hal-hal yang tampak di kota Manado begitu banyak dan sangat jelas; gedung-gedung bertingkat, pusat perbelanjaan dan hiburan serta orang-orang yang memiliki pengaruh atas hajat hidup orang banyak. Hal yang terakhir berkaitan dengan orang-orang dari kelas-kelas atas; pejabat, pengusaha dan orang-orang yang memiliki akses lebih banyak terhadap sumber daya dan memiliki kontrol atau sebagian orang.

Hal-hal yang tampak demikian sudah menjadi bagian dari kota Manado, sebagian lain menjadi ciri khas. Ketika berada di Manado, atau ketika ada yang bertanya tentang Manado, orang sering merujuk kepada hal-hal yang tampak, atau berbicara tentang orang-orang tertentu yang menguasai kepentingan masyarakat, seperti para pejabat. Seolah-olah kota Manado hanyalah terdiri dari gedung-gedung besar, pusat-pusat keramaian, gaya hidup urban yang maju serta orang-orang yang memeroleh penghormatan di tengah-tengah warga karena posisi mereka yang “seperti” menentukan kepentingan hidup masyarakat luas.

Tapi tahukah kita, bahwa di antara hal-hal yang tampak jelas tersebut, ada “mereka yang tak tampak”. Seperti kutipan yang saya gunakan di awal bagian ini, bahwa di dalam masyarakat kota Manado, selalu ada mereka yang “tak tampak”. Apakah mereka tak tampak karena memang mereka tak ada? Bukan. Mereka ada, bahkan mereka menjadi bagian dari masyarakat kota Manado. mereka tak tampak bukan karena tak ada, mereka tak tampak karena mereka tak diperhatikan, tidak menarik perhatian dan mungkin tidak ingin ada yang memperhatikan. Mereka berasal dari kelas-kelas masyarakat yang terpisah secara ekonomi, dibedakan karena profesi dan diacuhkan karena dianggap bagian dari masyarakat kelas bawah yang tidak penting.

Saya tidak hendak menjelaskan teori kelas sosial, dimana masyarakat dipilah-pilah berdasarkan kategori tertentu. Tapi kenyataannya, teori kelas ini tampaknya bekerja dalam konteks kehidupan perkotaan modern seperti Manado. memang tidak ada pembagian kelas dalam masyarakat kota Manado, tapi perlakuan warga kota terhadap warga kota yang lain seperti menciptakan batas antar masyarakat, atau kelas dan dari sinilah kategori masyarakat yang tampak dan tak tampak yang saya maksudkan. Jika ada warga kota yang “tak tampak”, lantas bagaimana kita melihat mereka? Dimana? Kapan? Dan tentu saja, siapa mereka? Umumnya warga kota yang dianggap tidak tampak berasal dari kelas ekonomi bawah atau yang profesinya dianggap rendahan, meskipun mereka sebenarnya punya peran, entah peran karena pekerjaannya atau pun bagian dari kompleksitas kehidupan kota.

Pagi hari adalah saat yang tepat. Kota Manado baru saja tersadar dari tidur malam yang panjang. Kota ini beraktifitas setiap  hari sejak pagi hingga menjelang subuh. Beberapa bagian kota Manado bahkan tak pernah tidur, selama 24 jam terus beraktifitas, seperti di kawasan Mega mas. Roda kehidupan di Manado berjalan dengan cepat, seperti halnya perputaran ekonomi yang telah menghidupi para warganya. Pagi hari biasanya menampakkan sisa-sisa kehidupan pada malam sebelumnya; jalanan yang sunyi karena para pengendara dan pejalan kaki masih terlelap tidur, udara kota Manado pun terasa lebih bersih dan sejuk. Saya selalu menyukai kota ini di pagi hari. Tidak ada kebisingan yang dihasilkan dari deru kendaraan bermotor, juga tak ada polusi dari pembuangan kendaraan bermotor atau pun asap rokok. Kota begitu tenang. Sisa-sisa kehidupan malam tampak begitu lekat di jalanan atau pun sudut lain dari kota Manado. beberapa perempuan berpakaian mini, baju yang agak terbuka dengan rok atau celana pendek menjadi pemandangan biasa di Manado pada pagi hari. Umumnya mereka adalah perempuan yang berkerja di kelab malam yang tersebar di Manado. di bagian lain, tampak lampu kota yang terpasang sepanjang jalan sebagian sudah padam sebagian lagi masih menyala terang. Kendaraan hanya muncul sesekali, angkutan umum ataupun motor yang umumnya membawa orang-orang yang hendak ke pasar Bersehati, sebuah pasar tradisional yang terletak tidak jauh dari pusat kota Manado. satu hal lagi yang selalu menjadi “ciri khas” di pagi hari di setiap sudut kota Manado; sampah di pagi hari.

Pemandangan yang sama dapat kita jumpai hampir setiap pagi di  Manado. sampah berserakan dimana-mana, tong sampah yang sudah penuh dan meluap hingga ke jalan, saluran-saluran yang kotor dan tersumbat, daun-daun yang rontok dari pepohonan yang di tanam di pinggiran jalan kota Manado, dan sampah kemasan makanan dan minuman yang dapat dijumpai di bagian mana saja di kota ini. Meskipun pemerintah setempat telah mengeluarkan kebijakan aturan terkait masalah membuang sampah sembarangan, tetap saja pemandangan ini menjadi keseharian warga kota Manado. mungkin karena sudah menjadi kebiasaan, atau memang tidak punya kesadaran tentang kebersihan kota, wajah jorok Manado masih tampak  terutama pagi hari.

Reputasi kota Manado soal kebersihan adalah terburuk menurut saya, meskipun pada tahun 1990an pernah mendapatkan penghargaan Adipura sebagai salah satu kota bersih. Alasan itu pula, kondisi kota yang kumuh dan pudar serta kering menyulitkan saya mendeskripsikan seperti apa kota ini seharusnya. Pepohonan yang kering dengan daun-daun tua yang rontok berguguran terlihat menyedihkan, sudut-sudut kota dengan tembok-tembok bekas tempelan poster dan iklan yang sudah mulai sobek dan luntur oleh air hujan menjadi salah satu yang berkontribusi semerawutnya wajah kota.

Di balik kesunyian kota di pagi hari, saat aktivitas warga belum di mulai, mereka mulai bermunculan. Para pekerja yang bertugas setiap pagi membersihkan wajah kota Manado yang kumuh, kusam dan lelah oleh aktivitas. Warga kota yang beraktifitas setiap hari, meninggalkan sampah, tak pernah tahu atau bahkan mungkin tak pernah ingin tahu, bahwa kota yang mereka kotori setiap malam harus dibersihkan oleh para pekerja-pekerja yang umumnya sudah berusia di atas 40 tahun. mereka juga tak mau memusingkan urusan siapa yang membersihkan sampah-sampah, kotoran yang menumpuk di sepanjang jalanan kota. Ketika aktivitas di mulai lagi di pagi hari, mereka mengulangi siklus yang sama; meninggalkan sampah di pagi hari.

Pekerja kebersihan ini adalah orang-orang yang berada di balik wajah kota Manado yang tampak lebih bersih, menawan dan indah di pagi hari. Mereka adalah sosok-sosok yang sering tidak diperhatikan oleh warga kota yang lain. memulai aktivitas saat subuh, mengenakan sepatu lusuh, pakaian yang dilapisi dengan jaket untuk menghalau dingin, tangan tua yang menggenggam sapu, orang-orang yang umumnya sudah berusia lanjut ini mulai menyapu satu persatu sudut jalan, trotoar dan tempat-tempat lain di penjuru kota Manado yang penuh dengan sisa-sisa sampah, kemasan makanan, botol minuman, kantong plastik, puntung rokok, kubangan lumpur, timbunan muntah orang yang semalaman mabuk berat atau daun-daun kering yang jatuh berserakan di jalanan. Mereka harus menyelesaikan tugas mereka sebelum aktivitas pagi warga kota di mulai. Bisa dibayangkan, tugas yang berat harus membersihkan seluruh jalan utama di kota Manado dalam waktu hanya beberapa jam.

Tidak penting apakah pekerjaan mereka dianggap atau tidak, tapi bagi mereka sudah menjadi kewajiban untuk menata wajah kota agar tampak lebih asri. Mereka memang tak pernah ingin dihargai, karena sudah bagian dari tugas dan pekerjaan yang mereka pikul. Tapi sebagai warga kota Manado, apa yang mereka lakukan bagi saya harus diapresiasi. Bukan dengan memberikan sejumlah uang atau penghargaan. Cara yang paling memungkinkan dan paling rasional menghargai mereka serta tugas yang mereka kerjakan adalah dengan tetap menjaga lingkungan kota dan tidak meninggalkan timbunan sampah yang berserakan akibat kebiasaan membuang sampah dan sisa makanan di sembarang tempat. Dengan cara sederhana itu, paling tidak kita menghargai jerih payah mereka yang setiap pagi membersihkan kota Manado dari timbunan sampah yang merusak pemandangan dan lingkungan.

Banyak warga kota sering tidak menganggap penting kehadiran para pekerja kebersihan ini. Alasaannya, tentu saja, banyak yang mungkin tidak pernah melihat orang-orang ini bekerja di pagi hari. Kebanyakan warga beraktivitas pagi sejak pukul 7 pagi, sementara para pekerja ini sudah berada di jalanan sejak subuh. Sangat mungkin pekerjaan mereka tidak terlalu dianggap penting, dan bahkan dianggap sebagai pekerjaan rendahan. Orang-orang mengasosiasikan pekerjaan kasar yang berhubungan dengan sampah adalah pekerjaan kelas bawah. Tapi bagi saya, orang-orang inilah yang menjadi bagian penting dari penataan wajah kota. Tanpa mereka, mungkin saja kita akan melihat pemandangan pagi yang sangat tidak menyenangkan; timbunan sampah berserakan dimana-mana, kotoran tampak menghiasi wajah kota. Tapi dengan adanya pekerja ini, maka perjalanan pagi setiap warga kota yang memulai aktivitas mereka selalu disambut dengan pemandangan lingkungan kota yang nyaman. Mereka adalah warga kota Manado yang sering “tak tampak”, sering tidak diperhatikan. Karena pekerjaan mereka, warga kota lain sering memperlakukan mereka sebagai bagian yang tidak penting dari masyarakat.

 Tukang sapu jalanan seperti mereka memang tidak membutuhkan kualifikasi pendidikan yang tinggi, gelar akademik atau keahlian khusus. Cukup bisa memegang sapu, pekerjaan ini bisa dilakukan oleh siapa saja. Tapi ini bukan persoalan seberapa hebat kita, tapi soal “kemauan”. Ada lebih dari 300 ribu warga Manado berusia dewasa, tapi berapa banyak yang mau melakukan pekerjaan ini? Bahkan pemuda pengangguran sekalipun berpikir seribu kali menekuni pekerjaan sebagai pembersih jalan kota. Secara ekonomi, profesi ini tidaklah menawarkan penghasilan yang menggiurkan. Setiap orang punya perspektif yang berbeda melihat profesi “tukang sapu jalanan” ini. Bagi birokrat yang kerja di pemerintahan kota, profesi ini dianggap seperti profesi biasa, tidak layak mendapat perhatian khusus. Tak ada penghargaan bagi yang berprestasi. Bagi pengamat ekonomi, profesi ini tak banyak berpengaruh bagi ekonomi setempat. Tapi saya adalah orang yang tertarik dengan fenomena-fenomena sosial, bahkan untuk hal-hal kecil dan sederhana yang sering kali luput dari perhatian. Bagi saya, menuliskan tentang kelompok warga kota dan menyebut mereka sebagai orang-orang yang “tak tampak” tidak berarti mengesampingkan manusia yang menekuni profesi tersebut. Justru, apa yang saya lakukan, menuliskan tentang kelompok warga yang dianggap berada di lapisan bawah dengan sendirinya menjelaskan bagaimana rata-rata warga kota melihat kehidupan sosial mereka sehari-hari. Dari orang-orang dengan profesi tertentu dan latar belakang tertentu, kita dapat menangkap perspektif yang beragam dalam memandang kompleksitas kehidupan perkotaan yang modern dan “terbaratkan”.

Para pekerja penyapu jalanan yang setiap pagi menempuh jalanan kota yang dingin, berdebu dan pudar adalah bagian dari masyarakat Manado, yang harus diperlakukan sama. namun dalam hal-hal tertentu, terkadang profesi, tingkat ekonomi memberikan pengaruh terhadap perspektif warga kota melihat orang lain. Petugas Kebersihan jalanan, mereka “tak tampak” bukan karena tidak terlihat. Mereka ada, hampir setiap pagi, membereskan sisa-sisa kehidupan kota yang lelah, kusut dan muram. Mereka ada, hidup sebagai warga kota, tapi karena profesi mereka yang dianggap “rendah”, mereka sering dianggap tak ada, lebih bisa dikatakan “tak tampak” dalam artiannya secara sosial.

lingkungan jalanan perkotaan segalanya tampak berbeda. hal-hal yang terjadi di jalanan kota Manado sering tak terduga. jalan adalah tempat bagi kehidupan yang keras. Orang-orang bahkan sering mengidentifikasi “Jalanan” di perkotaan dengan sesuatu yang begitu buruk dan mengerikan, anak jalanan, pengamen, pelacur, gelandangan, pemulung sampah, komplotan geng dan preman jalanan. Ini tidak sepenuhnya salah, mengingat jalanan kota adalah tanah tak bertuan yang jadi rebutan dalam pertarungan beberapa kelas warga untuk berebut lahan ekonomi. Yang kuat dapat menguasai sumber-sumber ekonomi di kota; lahan parkir misalnya, menjadi salah satu sumber bisnis yang menguntungkan bagi jenis-jenis profesi tidak formal yang terorganisir dan tidak jarang menyulut konflik akibat perebutan lahan. Para petugas kebersihan, penyapu jalanan kota, nasibnya sedikit lebih baik. Mereka berada dalam posisi yang lebih aman, tidak terlibat dalam konflik perebutan lahan dengan kelompok geng atau preman. Mereka adalah kelompok pekerja yang dibayar rutin untuk pekerjaan yang dilakukan rutin. Mereka tidak perlu susah payah mempertahankan pekerjaan mereka, karena toh tidak ada juga yang ingin berkonflik untuk merebut pekerjaan itu.

Penyapu jalanan tidak sendiri, ada juga orang-orang yang “berjasa” membenahi wajah kota yang kacau. Mereka adalah para pengangkut sampah, yang dipekerjakan Dinas Kebersihan kota Manado. tugas mereka jelas, sebagaimana profesi mereka; mengangkat sampah yang ada di seluruh kota Manado, yang jumlahnya berton-ton setiap hari. Dibandingkan dengan pekerja penyapu jalan, profesi sebagai pengankut sampah sedikit lebih “berat”. Bisa dibayangkan, setiap pagi sebelum matahari terbit, ratusan puluhan pekerja turun dan menyebar ke titik-titik tertentu di mana terdapat tempat-tempat pembuangan sampah yang biasa digunakan warga untuk membuang segala macam jenis sampah dan kotoran. Sisa sampah kantor, kertas, kemasan makanan, botol minuman, kaleng, sisa muntahan, kotoran hewan hingga isi perut ikan atau hewan lain. puluhan bau busuk bercampur di dalam kotak sampah berukuran kurang lebih 2 meter. Sebagian besar sampah tumpah ke jalanan akibat volume sampah yang tak dapat ditampung di tempat sampah yang berukuran kecil. Di tempat seperti inilah, para pekerja pengangkut sampah setiap hari beraktivitas. Dengan pakaian lusuh dan kotor, menggunakan sepatu bot tua yang sudah robek di beberapa bagian, jaket dengan warna yang pudar dan penutup kepala serta masker untuk menutup hidung dari bau yang tidak enak. Beberapa petugas bahkan sering terlihat tidak menggunakan penutup hidung. Mungkin hal ini karena sudah menjadi bagian dari pekerjaan, sehingga mereka menganggap sudah terbiasa dengan bau busuk yang menyengat dari pembuangan sampah. Sampah-sampah ini nantinya akan diangkut ke tempat pembuangan akhir, sebuah lahan besar, dengan bukit di tengah-tengahnya dan dikelilingi pagar seng. Bukit itu adalah tumpukan sampah kota Manado yang harus diurai, beberapa bagian-bagian sampah di korek-korek oleh pemulung untuk mencari barang-barang yang dianggap masih bisa di daur ulang atau di jual kembali di pasar-pasar barang bekas. Tempat ini menjadi pusat dari segala sampah rumah tangga, sampah industri, sisa-sisa sampah kantoran dan limbah. Produksi sampah di Manado berkisar 1 juta Kg/hari. Diantara sampah-sampah tersebut ada 700 kubik sampah plastik yang sulit di uraikan.

Bekerja dengan lingkungan kotor, bau dan tidak sehat, menyebabkan pekerjaan ini sangat rentan dengan penyakit. Untuk alasan itu pula, pekerjaan ini diaggap pekerjaan rendahan, tidak layak dan dalam beberapa kejadian saya melihat petugas pengangkut sampah yang diejek dan dihina. Orang-orang tak pernah berpikir, apa jadinya kota Manado tanpa profesi pengangkut sampah? Akan tampak seperti apa wajah kota Manado jika tumpukan sampah, timbunan kotoran dari seluruh penduduk kota Manado tidak diangkut dan diolah oleh pekerja-pekerja tersebut? Memang kelihatan sepele. Orang bisa saja menganggap profesi sebagai petugas pengangkut sampah di Manado adalah pekerjaan kasar yang tidak butuh keahlian khusus. Tapi apa yang akan terjadi dengan kota Manado tanpa mereka, jauh lebih memperihatinkan. Bisa dibayangkan, anda berjalan berkeliling kota Manado dan hampir setiap tempat yang anda lewati yang tampak adalah tumpukan sampah, bau busuk menyengat serta ancaman penyakit akibat kondisi lingkungan yang tidak steril. Selain itu, profesi ini tidak memerlukan kualifikasi pendidikan seperti kebanyakan profesi. Cukup tenaga dan keberanian untuk berbaur di tengah-tengah tumpukan sampah kotor dan bau. Nasib orang-orang dengan profesi ini tidak berbeda jauh dengan petugas kebersihan yang setiap pagi menyapu jalanan kota Manado. mereka bahkan mungkin lebih tak dianggap, dianggap masyarakat kelas bawah. Meskipun jika harus jujur, mereka adalah orang-orang penting di balik kondisi kota yang setiap hari kita nikmati. Profesi mereka, sama halnya dengan orang-orangnya, tak dianggap, tak tampak sebagai bagian dari masyarakat Manado.

Satu lagi kelas warga masyarakat yang “tak tampak” di tengah-tengah pergulatan kehidupan Manado yang keras. Kalangan masyarakat Manado yang bahkan dianggap “hina”, sesuatu yang lebih pantas disebut “sampah” masyarakat. Orang-orang yang lahir dari kegagalan bersaing, hidup dengan kemampuan terbatas, tanpa kualifikasi pendidikan yang memadai yang pada akhirnya memilih jalan hidup yang sebenarnya mereka sendiri sadari bahwa telah masuk ke lingkaran setan, sebuah siklus yang sulit untuk diputuskan mata rantainya. Pekerja Seks Komersil (PSK), dikenal juga dengan sebutan-sebutan lain yang digunakan oleh orang Manado. Lonte, Tambio, adalah sebutan-sebutan lain yang digunakan untuk menyebut para pekerja seks yang ada di Manado. perempuan-perempuan berusia antara belasan hingga 30 tahunan ini biasanya berkumpul di tempat-tempat yang sudah umum diketahui warga kota sebagai tempat “mangkal” para pekerja seks. Kompleks Taman Kesatuan Bangsa (TKB) atau sepanjang Jalan Boulevard adalah pusat prostitusi jalanan di Manado. sejak sekitar pukul 9 malam, para penjaja cinta satu malam ini memulai aktivitas mereka. Tampil dengan pakaian serba minim, bawahan yang biasanya hanya berupa rok mini atau celana  pendek yang hampir memperlihatkan bagian intim, sementara tubuh bagian atas ditutup dengan pakaian yang ketat, terbuka terutama di bagian dada serta tampilan wajah yang dihiasi dengan riasan tebal, lipstik yang menyala serta aroma parfum yang menyengat.

Beberapa tahun yang lalu, saya pernah membantu salah seorang kawan yang sementara menyelesaikan studi akhir di kampus dengan mengambil penelitian kehidupan ekonomi para pekerja seks di Manado. berbekal itu, saya memperoleh informasi tentang kehidupan para perempuan pekerja malam ini. Mereka menggeluti dua dunia yang begitu kontradiktif. Ketika bergaul di lingkungan sosial, mereka menjadi warga biasa, bersosialisasi dengan tetangga, beberapa memiliki keluarga, suami dan anak. Dalam kehidupan keseharian, mereka harus berperilaku yang lebih “pantas”, menghormati standar-standar moral yang berlaku di tempat mereka tinggal. Tapi ketika malam tiba, mereka harus bergelut dengan kehidupan kota yang penuh ambisi, nafsu dan gairah yang tak terbendung, mereka menjadi sosok yang berbeda. tak ada lagi standar moral, batas-batas kepantasan yang harus mereka jaga. Satu hal yang mereka tahu dan itu menjadi tujuan; mereka butuh uang, orang lain butuh kenikmatan sesaat. Seks tidak lagi menjadi sakral, tapi menjadi upaya yang paling masuk akal serta cara paling “mudah” memperoleh penghasilan bagi perempuan-perempuan ini. Tak perlu keahlian apalagi pendidikan tinggi. Mereka hanya perlu memberikan “jasa” kenikmatan yang singkat, transaksi cepat dan menghasilkan uang.

Meskipun begitu, kehidupan sebagai pekerja seks bukanlah kehidupan glamor yang menawarkan keuntungan menggiurkan yang bisa diperoleh dengan cara cepat dan mudah tapi tanpa resiko. Setiap perkerjaan, profesi, mengandung resiko. Dalam ilmu ekonomi,  resiko yang besar pasti menawarkan keuntungan yang sepadan. Lewat transaksi yang cepat, pembayaran yang jelas, praktis secara ekonomi pekerjaan sebagai pekerja seks komersil di Manado menawarkan jalan pintas bagi perempuan muda yang terdesak oleh kebutuhan ekonomi dan gaya hidup urban yang kian meningkat. Itu adalah sisi menguntungkan. Sisi buruknya, karena pekerjaan ini menuntut “hubungan fisik” dengan orang-orang yang tidak jelas latar belakang, sangat terbuka kemungkinan terjangkit jenis penyakit tertentu. Ancaman penyakit menjadi resiko yang paling besar bagi para pekerja seks di Manado. apalagi Manado terkenal dengan warganya yang beragam berasal dari daerah-daerah lain, tidak menutup kemungkinan jenis penyakit tertentu dapat tertular lewat hubungan seks lewat PSK. Meskipun para PSK tersebut sering melakukan pemeriksaan rutin kesehatan, tetap saja potensi tertular penyakit menjadi ancaman nomor satu di jalanan.

Atas alasan yang sama pula, warga Manado menganggap “hina” para PSK. Mereka menganggapd, para PSK membawa penyakit di masyarakat, dalam artinya yang sangat beragam. pertama, penyakit fisik yang mungkin ditularkan para PSK jika mereka berbaur dan bergaul dengan warga lain. meskipun tidak ada bukti ilmiah dan data-data yang menunjukkan secara spesifik penularan penyakit PSK lewat  pergaulan dengan masyarakat umum, tapi tetap saja PSK dianggap sumber penyakit bagi warga lain. yang kedua, PSK dianggap membawa penyakit “sosial” di masyarakat. Para warga secara umum menganggap PSK sebagai orang yang tidak memiliki aturan moral serta sandaran etika sebagaimana yang dianut warga Manado. pekerja seks atas alasan apapun, tidak dapat diterima oleh warga yang lain. apalagi ketika seorang perempuan PSK yang kemudian bergaul di lingkungan masyarakatnya pasti diperlakukan “berbeda”, dikucilkan oleh warga lain karena dianggap bisa “menular” kepada orang lain. mereka takut jika PSK ini mengajak atau mempengaruhi anak atau saudara perempuan mereka untuk terjun di dunia malam tersebut. Beruntung bagi mereka yang menjadi PSK di Manado tapi  masih diterima oleh masyarakat tempat dia tinggal.

Alasan-alasan sudah cukup bagi orang-orang untuk memposisikan para PSK jalanan ini menjadi warga negara kelas bawah atau menganggap mereka sebagai warga kota yang “tak tampak”. Mereka tak dianggap, karena pekerjaan mereka yang dianggap “kotor”, bertentangan dengan moral yang dianut warga kota Manado yang dianggap religius. Mungkin pekerjaan, atau perempuan pekerja seks ini tidak berkontribusi bagi pembangunan kota Manado. tapi bagi saya, ini bukan persoalan seberapa besar seseorang itu menghasilkan uang, atau bagaimana dia berkontribusi dalam artinya yang lebih bersifat ekonomi. Bagi saya ini adalah persoalan sebagai “warga kota” Manado.

Masih banyak lagi warga kota Manado yang masih dianggap “tak tampak” oleh warga kota yang lain. alasannya pun hampir sama; profesi dan status ekonomi. Para pengamen, komunitas “Punk” adalah contoh-contoh lain dari warga kota yang rentan terhadap diskriminasi, dipinggirkan dan tidak dianggap. Bahkan orang tidak peduli apakah ada PSK atau “anak punk” yang ditemukan tewas dipinggir jalan. Orang pasti akan menganggap mereka mati karena mereka memang pantas mati. Mereka tidak pantas hidup, apalagi di Manado. tanpa pekerjaan, penghasilan, orang bisa melakukan apa saja untuk terus hidup. Menjadi pengamen, PSK, pekerja kebersihan hanyalah cara mereka untuk dapat bertahan hidup dengan modal dan kemampuan terbatas.

Kota Manado menawarkan kehidupan yang mewah, tuntutan hidup yang besar serta gaya hidup yang mahal. Mereka yang ingin mencicipi kehidupan urban Manado harus berusaha keras. Mereka yang tidak punya modal, maka pilihan-pilihan yang paling sulit pun pada akhirnya menjadi pilihan yang paling masuk akal. Pekerja Penyapu Jalan, para pengangkut sampah atau perempuan malam pekerja Seks itu adalah sama, dalam arti mereka juga warga kota yang hidup dalam kota yang sama, berhak memperoleh penghargaan yang sama seperti warga kota yang lain. mereja juga warga kota yang butuh makan, perlu mempertahankan hidup.

Pilihan-pilihan inilah yang mungkin sering tidak dipahami oleh warga Manado yang lain. mereka sering menganggap pekerjaan rendahan sebagai petugas kebersihan, pekerja pengangkut sampah atau pekerja seks komersil sebagai orang-orang pemalas, tak berpendidikan dan pekerja rendahan. Padahal dibalik itu semua, hal penting yang harus semua warga Manado pahami, dibalik jerih payah mereka, upaya-upaya yang mereka kerjakan, ada keluarga yang harus dihidupi, anak yang harus diberi makan, bayi yang butuh susu, bocah yang harus terus sekolah, keluarga yang sakit. Sama seperti warga kota Manado yang lain, alasan-alasan kemanusiaan seperti itu paling tidak bisa kita gunakan untuk memperlakukan mereka sebagai warga yang “dianggap”, diperlakukan dengan setara dan bukan sebaliknya, menganggap mereka  sebagai warga kota “kelas bawah”, dianggap sebagai yang “tak tampak”.

0 Comments