Kota yang Otentik

Selama kurang lebih dua dasawarsa terakhir, Manado menjadi kota yang berkembang dengan cepat dalam cara-cara yang belum pernah diprediksikan sebelumnya. Keuntungan-keuntungan yang dirasakan warga kota Manado hari ini merupakan akumulasi atas pencapaian-pencapaian pembangunan, yang turut serta membawa dampak bagi kehidupan masyarakat Manado. Meningkatnya taraf hidup, tingkat ekonomi warga kota yang semakin membaik, kebiasaan-kebiasaan baru, cara hidup yang terus berubah serta terbukanya peluang-peluang baru merupakan bukti bahwa Manado akan terus berubah, berkembang dan menangkap kesempatan-kesempatan yang lebih baik di masa depan.

Manado terus tumbuh, membawa perubahan tidak sekedar bangunan fisik, jalan, jembatan, pusat pertokoan tapi juga membawa perubahan terhadap cara hidup masyarakat. Pembangunan kota Manado membawa 2 macam keuntungan; pertama, potensi keuntungan dalam hal ekonomi warga kota, pergaulan, akses barang serta transportasi manusia yang lebih mudah dari pada waktu-waktu yang lampau. Di sisi lain, kota ini menyimpan potensi beban di masa depan yang harus ditanggung seluruh warga Manado. Beban sosial, ekonomi dan kultural adalah ancaman-ancaman yang akan dihadapi kota Manado di Masa depan. Beban yang akan berubah menjadi ancaman kota di masa depan.

Manado dibangun dengan tidak berimbang. Sebagian besar wilayah yang ramai serta pusat-pusat pertokoan dibangun diatas lahan reklamasi atau gunung-gunung dan bukit yang dikeruk. Diatasnya telah berdiri ribuan ruko, beberapa supermarket, rumah makan cepat saji, mall, bank serta hotel dan apartemen atau perumahan. Dalam beberapa tahun ke depan, pembangunan tampaknya belum akan berhenti. Pembangunan sebelumnya yang hanya difokuskan pada wilayah yang kini disebut kawasan pada akhirnya harus menerima efek buruk akibat terpusatnya aktivitas ekonomi di satu wilayah yang terbatas. Pembangunan tampak tidak berimbang dan merata, aktivitas hanya tampak di wilayah-wilayah tertentu semacam yang tampak di sepanjang kawasan Boulevard yang mencakup kawasan Megamas, Manado Town Square, Bahu mall dan Boulevard mall. Di bagian lain kota Manado justru terlihat pemandangan yang kontras. Tak ada pembangunan gedung-gedung baru, pusat perbelanjaan atau kawasan bisnis dan perdagangan seperti Megamas. Akibat yang ditimbulkan oleh pembangunan yang tidak tersebar merata ini jelas terkait soal keuntungan ekonomi yang tidak merata. Investasi yang dilakukan selalu terfokus pada kawasan-kawasan yang sebenarnya sudah ramai, tanpa pernah ada konsep untuk membangun kawasan-kawasan baru agar perkembangan kota terlihat lebih merata dan berimbang.

Pembangunan kota Manado tidak saja mendatangkan keuntungan ekonomi bagi warga kota, tapi juga harus mengorbankan beberapa hal penting. Rekalamsi adalah contoh pembangunan yang tidak memperhatikan aspek lingkungan. Hal lainnya terlihat cukup jelas, pembangunan yang tidak tertata dengan rapi justru menjadikan kota Manado tampak lebih amburadul, tanpa konsep kota yang jelas. Di tengah-tengah pusat bisnis misalnya, didirikan rumah sakit yang menyebarkan bau busuk limbah kimia menyeruak di tengah-tengah keramaian kota, menjadikan kota Manado terlihat dibangun tanpa konsep dan gagasan cerdas. Ide Manado kota cerdas yang diusung pun tampak hanya menjadi semacam slogan belaka pemerintah, tanpa penerapan yang lebih kongkrit. Konsep Smart city yang harusnya menjadi konsep dalam menopang keberlangsungan hidup sebuah kota tak mampu diwujudkan dalam bentuk program dan langkah-langkah yang lebih efektif.

Setiap kota menghadapi masalah-masalah yang beragam, yang dikemudian hari bisa mengancam kehidupan kota. Ledakan jumlah penduduk yang terus meningkat tak terkendali akibat arus perpindahan orang dari satu kota lain ke Manado, perkembangan sarana transportasi yang memungkinkan orang melakukan perjalanan ke kota-kota lain dengan lebih cepat, kerusakan lingkungan akibat pembangunan yang tidak memperhatikan aspek ekologis, reklamasi pantai, kemacetan yang kian parah dari hari ke hari, masuknya kebudayaan lain bercampur dengan identitas lokal penduduk kota, perputaran ekonomi yang kian cepat, masalah pengangguran akibat meningkatnya jumlah penduduk usia produktif yang tidak diimbangi dengan jumlah lapangan pekerjaan yang mampu dipersiapkan, kualitas kesehatan yang semakin memburuk dari tahun ke tahun akibat kualitas udara yang semakin tidak layak di kota, berkurangnya lahan hijau akibat proyek pembangunan, tidak adanya ruang publik kota yang memadai, tingkat stress warga kota serta naiknya angka kriminal adalah beberapa masalah yang dihadapi kota Manado. Persoalan tersebut tidak sekedar persoalan hari ini, tapi akan menjadi beban kota Manado di masa depan jika tidak dilakukan langkah-langkah pencegahan yang memadai. Beban masa depan yang jika tidak ditangani sejak dini akan membuat kota menjadi tempat yang tidak layak dihuni, mengerikan dan mungkin akan ditinggalkan oleh penduduknya.

Persoalan penduduk adalah permasalahan utama kota Manado yang akan menjadi beban di masa kini maupun masa mendatang. Dimasa depan akan lebih banyak orang yang bertempat tinggal di kota ketimbang di daerah pedesaan. Hal ini juga diprediksi melalui penambahan populasi penduduk didunia hingga 1 miliar hingga tahun 2020. Dari penambahan populasi tersebut setengahnya akan berada didalam wilayah kota. Dalam kurun waktu tiga puluh lima tahun, proporsi tersebut telah meningkat dua pertiga setiap tahunnya.

Prioritas utama yang harus dilakukan adalah bagaimana membangun secondary city, yaitu mengurangi beban kota Manado dengan membangun dari wilayah-wilayah pinggiran. Ada 4  permasalahan Manado berkaitan dengan meningkatnya jumlah penduduk di Manado yang harus diselesaikan dalam rangka menuju kota yang nyaman untuk ditinggali yaitu transportasi massal yang memadai, sanitasi, air bersih dan perumahan. Laju angka pertumbuhan pernduduk Manado harus diimbangi dengan ketersediaan transportasi massal untuk mendukung mobilitas warga, sanitasi dan air bersih untuk menjamin kehidupan warga yang lebih sehat serta fasilitas tempat tinggal yang memadai untuk menampung banjir manusia yang tiap tahun terus meningkat, terutama pendatang yang menyerbu Manado yang umumnya terjadi pasca hari raya idul fitri.

Pertumbuhan jumlah penduduk kota Manado dalam rentang waktu 10 tahun terakhir rata-rata adalah sekitar 0.9 % pertahun. pada tahun 2001, jumlah penduduk Kota Manado hanya mencapai sekitar 382,834 jiwa. Angka ini meningkat menjadi 410.481 jiwa di tahun 2010. sementara Jumlah penduduk tahun 2013 adalah 499.175 jiwa, 2014 sebanyak 510.029 dan tahun 2015 mencapai 522.052 jiwa. Migrasi dalam jumlah yang besar adalah salah satu sebab meningkatnya jumlah penduduk di kota Manado. Umumnya berasal dari daerah sekitar Manado, seperti Bolmong, Minahasa, Bitung, Gorontalo, Sangihe serta sebagain adalah migrasi dari daerah-daerah luar seperti Jawa, Makasar dan Sumatera. Masuknya pendatang ke kota Manado salah satunya karena alasan ekonomi serta peluang kerja yang lebih besar dari pada daerah. Selain itu juga, banyak pendatang yang masuk ke Manado untuk alasan sekolah atau kuliah.

Ketersediaan tempat tinggal adalah masalah utama meledaknya jumlah penduduk di Manado. Umumnya pendatang yang masuk ke Manado tidak memiliki tempat tinggal sendiri, sebagian ada yang tinggal dengan saudara atau kenalan yang sudah lebih dulu menetap di Manado, beberapa memilih untuk mengontrak kamar atau rumah dan tidak jarang juga ada yang mendirikan bangunan atau tempat tinggal di daerah atau wilayah-wilayah terlarang, seperti pinggiran sungai atau tanah-tanah kosong yang lama dibiarkan. Tidak heran, kini di Manado dengan mudah dapat kita jumpai penginapan, tempat kost atau kontrakan menjamur di seluruh sudut kota Manado. Kehidupan Manado menjadi lebih padat dan tak terkendali dengan banyaknya warga kota yang beraktifitas di sini. Meskipun kontrakan, kost atau penginapan menjadi alternatif tempat tinggal bagi warga yang datang ke Manado, ini tidak menjamin sebuah kehidupan yang lebih tertata. Kecuali di beberapa tempat kost dan kontrakan berbiaya tinggi yang menyediakan fasilitas-fasilitas terbaik seperti air bersih, kebersihan, listrik serta sanitasi yang baik, sebagian besar pendatang di Manado umumnya memilih tempat tinggal berbiaya rendah dengan fasilitas yang terbatas. Paling tidak tersedia kamar mandi dan tempat tidur, dengan biaya sewa yang lebih rendah terutama untuk pegawai biasa, karyawan toko atau pekerja kasar, orang tak terlalu memusingkan masalah sanitasi dan fasilitas-fasilitas lainnya. Alasan lain adalah soal kemudahan akses. Umumnya orang Manado, baik warga Manado asli maupun pendatang memilih tempat tinggal yang memiliki akses mudah ke tempat kerja, sehingga lebih efektif dan efisien, hemat tenaga, waktu serta uang. Tak peduli fasilitas tempat tinggalnya seperti apa, selama berbiaya murah serta punya akses mudah ke tempat kerja, akan menjadi pertimbangan pertama.

Pertambahan jumlah penduduk akibat arus imigrasi yang terus meningkat dari tahun ke tahun harus diantisipasi. Ledakan penduduk yang tidak terkendali di Manado, mungkin belum akan menjadi bencana sosial yang berarti dalam paling tidak 5 tahun ke depan. Tapi dalam kurun waktu 10 hingga 20 tahun ke depan, laju pertumbuhan yang tak terkendali akan memicu dampak bencana perkotaan yang lebih besar. Kurangnya kesempatan kerja, akan menimbulkan pengangguran dan meningkatnya angka kriminalitas di kota Manado. Beberapa tahun ke depan, Manado akan menghadapi masalah-masalah seperti terjadinya pemusatan penduduk di satu wilayah yang terbatas akibat urbanisasi, akan menyebabkan masalah ketertiban dan kebersihan lingkungan akibat pemukiman yang tak tertata. Keterbatasan jumlah tempat tinggal, akan mengakibatkan banyaknya perumahan-perumahan liar yang sangat menganggu keindahan dan ketertiban di kota serta ketersediaan air bersih akan mengakibatkan menurunnya kualitas kesehatan warga kota. Manado akan kehilangan sisi manusiawinya akibat perubahan yang mengejutkan juga menakjubkan.

Selain masalah pemukiman dan tempat tinggal, peningkatan jumlah penduduk di Manado juga membawa dampak turunan sebagai efek buruk banyaknya warga kota dengan banyak kebutuhan yang beragam. Kebutuhan transportasi publik belum memadai di Manado, sementara mobilitas semakin tinggi. Orang-orang membutuhkan sarana transportasi untuk mendukung aktivitas, sehingga memiliki kendaraan pribadi kini tidak lagi sekedar bagian dari gaya hidup perkotaan, tapi juga kebutuhan orang Manado. Meningkatnya jumlah penduduk, diiringi dengan meningkatnya kepemilikan kendaraan pribadi seperti motor atau mobil. Akibatnya jelas bisa dibayangkan, terjadi kemacetan hampir di setiap jam-jam sibuk dan titik-titik keramaian. Kemacetan semakin parah dari hari ke hari, sementara beberapa aturan yang diberlakukan belum mampu mengurai kemacetan yang terjadi.

Banyaknya jumlah pendatang ke kota Manado tidak diiringi dengan ketersediaan lapangan pekerjaan yang cukup serta pendatang yang masuk tanpa latar belakang pendidikan serta ketrampilan yang memadai, turut menjadi penyebab meningkatnya jumlah pengangguran di kota ini. Tuntutan hidup yang kian tinggi dan mendesak mendorong sebagian orang melakukan tindakan kriminal, seperti mencuri, merampok dan membunuh. Kriminalitas selalu menjadi masalah sosial setiap kota-kota yang berkembang. Tingkat kejahatan yang terjadi di kota Manado harus dilihat sebagai akibat dari pembangunan yang kian tak terkendali dan kondisi ekonomi yang tampak tidak adil bagi sebagian orang.

Pada masa-masa mendatang, kota Manado tidak hanya akan menghadapi investor yang terus berdatangan, pembangunan yang kian cepat dan tak terkendali tapi secara sosial kultural, warga kota Manado akan hidup bersama dengan orang-orang dari negara, bangsa, kultur, bahasa serta gaya hidup yang sama sekali berbeda. Ini merupakan efek dari terhubungnya kota ini dengan wilayah-wilayah lain.

Kota Manado harus membuat proyeksi jangka panjang, menghadapi beban-beban kota di masa depan. Persoalan yang digambarkan di atas biasa dihadapi oleh kota-kota berkembang di mana saja. Meski demikian hal ini tidak bisa dibiarkan atau sekedar dianggap masalah sepele, karena bisa jadi akan membawa dampak yang lebih buruk bagi masa depan kota Manado. Apa yang terjadi hari ini hanyalah awal dari efek buruk pembangunan yang akan terus bertambah buruk dampaknya.

Meningkatnya jumlah penduduk akibat arus pendatang yang masuk di Manado, haruslah dihadapi dengan kebijakan-kebijakan baru yang bisa mengatasi masalah ini. Bagaimana pun, pendatang yang masuk Manado secara tidak langsung memberikan untung secara ekonomi bagi kemajuan kota Manado, karena para pendatang yang masuk dan tinggal di Manado untuk alasan pekerjaan menjadi penopang bagi roda ekonomi di Manado. Persoalannya adalah, semakin meningkatnya jumlah penduduk membawa dampak bawaan yang cukup serius; pengangguran dan terbatasnya hunian warga. Pemerintah harus menyiapkan solusi permasalahan kependudukan dengan pertama mengupayakan terciptanya lapangan-lapangan pekerjaan baru yang bisa mengurangi angka pengangguran. Dengan terbukanya lapangan pekerjaan yang didukung oleh pemerintah akan memudahkan orang-orang memperoleh pekerjaan untuk menopang tidak saja kehidupan pribadi mereka tapi juga menjaga perputaran ekonomi di kota Manado dalam kondisi yang stabil.

Masalah hunian saat ini tampak sudah mulai dapat mengatasi persoalan yang timbul akibat banyaknya penduduk, terutama warga pendatang yang tidak memiliki tempat tinggal tetap. Di kota-kota lain, misalnya Jakarta, laju pertumbuhan penduduk kota yang tidak terkendali tidak hanya meningkatkan angka pengangguran tapi juga munculnya pemukiman-pemukiman liar seperti di rel kereta api atau bantaran sungai. Apa yang terjadi di Manado tidak separah yang kita lihat di Jakarta.  Meski pun demikian, hal ini harus cepat diatasi. Munculnya usaha-usaha hunian dan tempat tinggal dalam bentuk rumah-rumah kost yang kini menjadi tren usaha baru di Manado paling tidak sudah cukup membantu pemerintah mengatasi masalah banyaknya warga yang tidak memiliki tempat tinggal. Selain itu, program pemerintah dengan membangun perumahan bersubdisi menjadi langkah yang paling tepat, karena telah memberi kemudahan bagi warga kota yang belum memiliki tempat tinggal tetap untuk memperoleh rumah. Dengan demikian, diharapkan tidak akan ada yang namanya pemukiman-pemukiman liar yang dibangun di tempat-tempat yang tidak semestinya dibangun rumah, seperti di bawah jembatan, sepanjang sungai atau tanah-tanah kosong yang sudah lama tidak ditempati pemiliknya.

Masalah selanjutnya adalah persoalan pembangunan yang tampak tidak merata. Pembangunan kota Manado hari ini tampaknya hanya terpusat pada kawasan-kawasan tertentu, seperti kawasan Boulevard. Ini membawa dampak ekonomi yang cukup buruk bagi warga kota Manado. Pembangunan yang tidak menyebar mengakibatkan terjadinya kesenjangan ekonomi antar wilayah di Manado. Pembangunan kota Manado ke depan tidak hanya memperhatikan aspek ekonom, tapi juga lingkungan. Konsep pembangunan haruslah yang ramah lingkungan dan juga bisa menciptakan lapangan pekerjaan baru bagi warga sekitar pusat pembangunan. Kini pembangunan kota Manado yang awalnya hanya berputar di sekitar kawasan Megamas atau Boulevard, mulai berkembang ke daerah-daerah pinggiran lain, seperti kecamatan Tuminting dan Mapanget. Pembangunan seperti ini dihararapkan mampu mengatasi kesenjangan ekonomi antar warga Manado.

Kemacetan juga merupakan akibat dari terus meningkatnya jumlah penduduk kota Manado serta membaiknya kesejahteraan warga Manado secara ekonomi. Kepemilikan kendaraan seperti motor dan mobil kini tidak hanya identik dengan orang kaya, tapi sudah menjadi kebutuhan mendasar warga Manado. Banyaknya warga yang memiliki kendaraan di satu sisi, sementara fasilitas-fasilitas transportasi serta jalan raya yang belum memadai menghasilkan kemacetan yang semakin parah dari hari ke hari. Jika tidak segera di atasi, bukan tidak mungkin kota Manado ke depan akan bernasib sama dengan kota-kota besar lain karena masalah kemacetan. Persoalan kemacetan tidak sekedar masalah menumpuknya kendaraan di jalanan, tapi juga berimbas secara ekonomi. Kehidupan warga jadi tidak efekti dan efisien, karena harus menghabiskan berjam-jam terjebak dengan kemacetan setiap hari. Perlu kebijakan-kebijakan yang dapat mengurai problem kemacetan di kota Manado, tidak sekedar mengendalikan jumlah kendaraan yang masuk ke Manado yang kian banyak, tapi juga perlu menyiapkan semacam transportasi publik yang memadai untuk mengurai penggunaan kendaraan pribadi sehingga bisa menekan tingkat kemacetan di Manado yang terjadi hampir di setiap ruas jalan.

Yang terakhir adalah soal kriminalitas. Setiap kota-kota maju pasti menghadapi persoalan kriminalitas warga. Pencurian, perampokan atau pembunuhan adalah contoh-contoh berbagai tindak kriminal yang hampir setiap hari terjadi di kota Manado. Halaman-halamn koran lokal selalu memuat berita-berita kriminal dalam berbagai tingkatannya. Meskipun tidak semuanya, sebagian besar tindakan kejahatan terjadi selalu berkaitan dengan kondisi sosial ekonomi. Maraknya tawuran antara warga misalnya, dapat dilihat kaitannya dengan kondisi ekonomi warga yang kian terpuruk. Beberapa mencoba mengambil jalan pintas, mencuri, merampok atau membunuh. Sementara kejahatan lain terjadi karena pengaruh kondisi sosial, seperti tingkat stres warga Manado. Disini tidak hanya pemerintah atau pun pihak yang terkait bertanggung jawab, tapi juga menjadi tugas bersama setiap warga kota untuk mencegah terjadinya beragam tindak kejahatan di Manado. Tersedianya lapangan kerja yang cukup juga menjadi salah satu solusi untuk mencegah terus naiknya angka kriminalitas di Manado.

Kota Manado bagaimanapun adalah tempat yang menyenangkan bagi saya. Hidup di kota ini selama hampir 30 tahun, mempelajari sejarah kota ini, berbincang-bincang dengan kehidupannya yang penuh kejutan dan menapaki jalanan kotanya yang masih sama. Mungkin kota ini telah mengalami perubahan selama kurang lebih 20 tahun terakhir, tapi beberapa hal disini masih sama. Toleransi adalah kearifan lokal yang telah membentuk karakter orang-orang Manado yang terbuka dan ramah.

Banyak bangunan-bangunan besar dan baru yang sudah dan akan terus dibangun. Beberapa diantaranya berbiaya cukup besar. Kota ini tampak seperti pengantin yang bersolek; baru, cantik tapi hampir kehilangan orisinalitas. Kota ini mengartikan modernitas dengan sangat gamblang, membangun segala sesuatu yang baru dan modern tanpa identitas yang dekat dengan ciri khas kota ini. Tidak seperti di kota-kota di belahan dunia lain yang menyimpan gedung-gedung tua dan bersejarah, di Manado hampir sulit untuk menemukan jejak sejarah yang direkam dalam dinding-dinding bangunan tua peninggalan zaman dahulu. Orang-orang senang dengan sesuatu yang modern, baru dan canggih. Tanpa mereka sadari bahwa moderniasi itu telah menghilangkan sumber-sumber sejarah kota mereka.

Bagaimanapun kota ini masih menyimpan sedikit sejarah dan kisah-kisah masa lampau. Beberapa bangunan tua bersejarah masih bisa kita jumpai. Kisah-kisah yang membawa rindu dari masa lalu untuk hidup di kota dengan zaman yang telah berubah. Beberapa bangunan masih tersisa dan tidak hancur meskipun pembangunan terjadi dengan skala yang cukup besar. Gereja Centrum, yang terletak di tengah-tengah kota adalah salah peninggalan tua Manado. Gereja ini merupakan peninggalan perang dunia ke-II. Di halaman gereja ini terdapat tugu peringatan perang dunia ke-II yang sampai hari ini masih berdiri kokoh sama seperti kondisinya pertama kali dibangun.

Kemudian ada juga dua perkampungan yang usianya mungkin sudah sama tuanya dengan usia kota Manado. Perkampungan China dan perkampungan Arab, yang letaknya berhadap-hadapan. Dua tempat ini menjadi simbol kerukunan, bagaiamana dua komunitas dengan latar belakang kultur dan agama yang berbeda mampu hidup berdampingan dalam kurun waktu yang lama. Di perkampungan China, berdiri Klenteng tertua di Manado, Ban Hin Kiong, yang leteknya tepat di depan pintu masuk ke perkampunga Arab yang persis berada di depan Masjid Besar di kompleks itu. Kondisi seperti ini masih bisa kita saksikan sampai sekarang. Toleransi dan keterbukaan warga Manado hidup bersama-sama dalam denyut nadi kota yang semakin berubah ke arah yang semakin maju.

Kota Manado menyimpan masa lalu yang terselip di balik dinding-dinding tua berdebu, jalanan kota yang ramai, di atas menara gereja tua atau gedung-gedung bergaya klasik yang yang terbengkalai. Kisah-kisah lama kota ini terdengar dari suara ombak dan tercium dari bau asin laut. Wajah masa lampau kota tercermin dari sikap orang-orangnya yang ramah. Saya selalu senang melihat kota ini dari sudut pandang yang beda. Tidak melihat kota ini sebagai setumpuk upaya modernisasi yang terkesan dipaksakan. Saya lebih melihat kota ini sebagai sebuah tempat, kota tepi pantai yang mampu menarasikan masa lalu serta menuturkan masa depan. Dalam tahun-tahun mendatang, kota yang saya saksikan hari ini mungkin tidak akan pernah sama. Wajah kota tentu akan berubah seiring perkembangan, sikap dan cara hidup warga pun akan terus menyesuaikan. Di antara gedung-gedung pencakar langit, bangunan-bangunan besar bertingkat, fasilitas canggih yang nanti akan dibangun, selalu akan ada cerita masa lalu dari sebuah kota. Sebuah cerita masa lampau tentang bagaimana kota ini lahir, hidup, berkembang dan akan menuju bentuknya yang paling ideal sebagai sebuah kota, Manado yang otentik.

0 Comments