Bukalah akun Twitter Anda, dan periksa apa yang sedang menjadi trending topic hari ini? Sangat memungkinkan, satu atau lebih persoalan dalam jejeran topik itu adalah ihwal politik. Beralilah ke Instagram, perhatikan dengan saksama postingan para selebgram dan orang-orang yang disebut “In-flu-encer”. Ekonomi dalam wujud endorsement adalah hal yang seringkali tidak bisa lepas dari apa pun yang mereka tebarkan—dan jangan lupa baca kolom komentarnya juga. Well, matikan sementara segala akses Anda ke Internet. Pikirkan: kapan terakhir kali Anda berhenti berpikir (termasuk berhenti berimajinasi) tentang hal-hal yang melibatkan kuasa dan/atau uang?
Ruang kehidupan kita sepertinya benar-benar sudah sesak dengan rutinitas politis dan ekonomis, perangai negara dan pasar—ihwal kuasa dan uang. Mereka senantiasa menyusup, berkelindan dalam kerumunan orang-orang dengan rupa yang beragam; politik kadang menjelma ekonomi, pasar bisa menjadi pengasuh negara, kuasa bertukar-tangkap dengan uang, dan keduanya sanggup membeli kerumunan, juga menyulap setiap kita sebagai sekadar nominal dan angka-angka statistik.
Di antara
perhimpitan ruang yang semakin sempit itu, masihkah ada ruang yang tersisa bagi
orang-orang untuk berkomunikasi dalam rangka menentukan nasib bersama, berpikir
otonomis, bertindak mandiri, tanpa harus berada dalam barisan negara dan pasar,
tanpa di atur oleh laku politik dan ekonomi, bebas dari cengkeraman kuasa dan
uang?
Jürgen Habermas
pernah memikirkannya. Setengah abad yang lalu di daratan Eropa, sang filsuf
merumuskan ruang yang tersisa itu; sebuah konsep ruang yang diambilnya dari
sejarah kaum borjuis Jerman abad kedelapan belas. Kala itu, begitu marak
kedai-kedai kopi juga salon-salon yang beralih fungsi menjadi
komunitas-komunitas diskusi. “Ruang Publik,” begitu ia menamainya. Ruang yang
terdefinisi sebagai ruang yang tak hanya terpisah dari ‘ruang’ politik dan
ekonomi, melainkan juga, ruang di mana setiap orang memiliki akses untuk
menjadi pengusung opini, guna memengaruhi, termasuk secara informal, laku dan
perangai yang ada dalam ‘ruang’ negara dan pasar.
Ber-locus di
Manado, ruang semacam itu tampak telah lama hadir, atau mungkin tengah dihadirkan.
Sebuah jalur bagi roda-roda pedati peninggalan sejarah jauh sebelum hiruk-pikuk
Perang Dunia I dan II kini seolah menjelma Ruang Publik. Orang-orang tetap menyebutnya
sebagai “Jalan Roda”—atau yang kemudian lebih popular dengan akronimnya, “Jarod”—meski
bentangan jalur itu kini dipenuhi kedai-kedai kopi yang seakan enggan disinari
matahari. Dari luar, ia dikepung oleh gejala-gejala pasar, juga berjarak tak
jauh dari pusat pemerintahan kota. Di dalamnya terdapat kerumunan-kerumunan,
jajanan, poster-poster, iklan, musik, juga orang-orang yang berlalu-lalang
dengan pikiran, khayalan, hasrat, harapan, ‘jualan’, juga bau keringat yang
bermacam-macam.
Tak ada ‘tokoh
sentral’ dalam ‘ritual perkopian’ di sana. Atau sederhananya, Jarod bisa
dipandang lebih sebagai ranah Karnaval ketimbang pentas Teater. Jarod tak
membedakan siapa aktor dan siapa penonton; Jarod tak mengenal lampu sorot. Di
sana, setiap orang turut serta, ia merangkum dan merangkul semuanya. Pejabat
(bahkan Presiden), pengusaha, akademisi, mahasiswa, pengangguran, penjual,
pembeli, ahli nujum, pakar feng shui, tokoh agama, mungkin juga PSK,
hingga peminta-minta, bisa duduk bersama dalam satu kerumunan. Berdebat,
bercengkerama, atau sekadar membicarakan hal-hal banal juga absurd, atau bahkan
hanya berdiam dengan memasang rupa penuh harap.
Barangkali
karena lumernya batas-batas yang memisahkan pentas dan audiens itu, juga kaburnya
batas-batas yang dianggap final seperti pangkat, privilese, bahkan norma, yang
membuat Iqbal mencoba membuat rumusan tentang Jarod dengan duduk bersama
Habermas. Dalam buku Komunitas Jalan Roda ini, Iqbal meletakkan Jarod dalam definisi
sebagai Ruang Publik—tepatnya, Ruang Publik bagi masyarakat Manado yang
multikultural. Lebih jauh, Iqbal pun mencoba mengurai fungsi sosial-politis
Jarod ala Habermasian: “Komunitas Jalan Roda,” kutip Iqbal, “memainkan
fungsinya sebagai saluran informasi terhadap isu-isu yang berkembang, … [dan]
warga diberikan kebebasan dan kesetaraan dalam mengemukakan pendapat dan opini
terhadap satu masalah.”
Tapi definisi
dan fungsi ini barangkali tidak lebih dari sekadar ekspektasi. Apa sebab? Terdapat
rentetan ironi, deretan paradoks, ambiguitas, dan juga inkonsistensi dalam
upaya Iqbal menyatu-padankan ataupun merajut keterpautan antara Jarod dan ‘Ruang
Publik’ ideal Habermasian. Ketika Habermas, misalnya, mencita-citakan Ruang
Publik yang mandiri dan mengambil jarak dari negara dan pasar, Jarod dalam
realitas yang digambarkan Iqbal sewaktu-waktu bisa menjelma sebagai ruang
sosialisasi politik sekaligus ruang bagi laku ekonomi untuk kepentingan
non-publik. Iqbal sendiri mengakui, “Jarod selalu dijadikan sasaran untuk
memasarkan produk-produk tertentu, tidak hanya barang dan jasa, bahkan untuk
memasarkan ‘tokoh’ tertentu yang ingin mendongkrak popularitasnya.”
Sejurus dengan
itu, penekanan Habermas akan rasionalitas nan borjuis dalam Ruang Publik pun
terasa kontras ketika Iqbal menggambarkan Jarod sebagai ruang yang tak hanya
diisi dan diakses oleh orang-orang yang berpikir rasional dan kritis untuk
‘kepentingan publik’, melainkan juga oleh orang biasa—dengan
kesalahan-kesalahannya, dengan egonya, dengan emosinya. Fakta ini tentu saja menimbulkan
pertanyaan; bagaimana mungkin konsensus untuk mengusung opini publik dapat
lahir dari proses komunikasi yang logis dan rasional sementara irasionalitas
yang melahirkan ‘debat kusir’ tanpa arah juga ikut menjadi unsur yang inheren
dan signifikan di dalamnya?
Habermas pernah
bersabda: “Proses komunikasi publik … tidak hanya mengandaikan bahwa setiap
orang dapat berbicara, dengan kesempatan yang sama, tentang persoalan
pribadinya, keinginan dan keyakinannya; proses komunikasi yang otentik hanya
dapat dicapai di dalam kerangka bahwa semua pendapat pribadi ataupun kelompok
dapat berkembang di dalam dialog rasional kritis dan kemudian membentuk opini
publik.” Dengan rumusan pasal ini, kita bisa saja mendakwa Iqbal sebagai orang
yang berpikir jauh ke Frankfurt, tapi ngopi-nya di Jarod.
Tapi, apa yang
salah dengan ekspektasi?
Jarod memang
adalah ruang yang tak sepenuhnya bisa dirumuskan; realitasnya masih membutuhkan
banyak ‘catatan kaki’. Ia tak hanya merupakan ruang yang menautkan tubuh
orang-orang dan sepetak tanah, melainkan juga, ruang yang menjalin-rajut ragam
pikiran, ego, juga keluh-kesah serta harap-cemas dari komunitasnya. Dari itu,
matinya Ruang Publik otentik di Jarod bukanlah hal yang perlu diratapi. Sebab
Iqbal tak sedang berilusi; alih-alih hendak menghadirkan sepenuhnya Ruang
Publik ideal Habermasian di Jarod, ia sebenarnya, lewat fenomena Jarod, hendak
menyusun kritik terhadap Habermas.
Di sinilah,
barangkali, usaha Iqbal untuk bersepakat sekaligus tidak bersepakat dengan
Habermas menjadi krusial. Ketika Habermas begitu yakin akan terjadi
kemufakatan, berkat laku komunikatif, berkat nalar yang tak egosentris, Iqbal
menghadirkan realitas Jarod dengan wajah yang penuh coretan, bualan, sarkasme,
tawa, hingga polusi suara keributan. Ketika Habermas berani menjamin
legitimitas konsensus sebagai hasil dari kumpulan seluruh kehendak, di Jarod,
kata Iqbal, konsensus seperti itu tak pernah bulat. Dan ketika sebuah konsensus
coba dibulatkan, selalu saja ada yang retak dan dikaburkan. Apalagi jika
konsensus yang hendak dicapai, seperti yang dicontohkan Iqbal, lahir dari
giring-gorengan “figur dengan ‘lisensi’ tertentu” yang bisa saja
merupakan pseudo-apparatus negara bahkan representasi dari kekuasaan.
Apa yang hendak
dirayakan Iqbal dalam laku komunikasi di Jarod barangkali bukan sekadar dialogical
conception, melainkan juga paralogical ala Jean Francois Lyotard, bahkan parrhesia (sebuah
kata kuno dari dunia teater yang diperkenalkan oleh Euripides di abad-4 SM
untuk menggambarkan “kemerdekaan berbicara”), yang prinsipnya: datang ke Jarod
yang terpenting bukanlah jaminan akan datang solusi bersama, bukan pula garansi
bahwa akan terbit opini publik untuk perubahan sosial, melainkan percakapan
dengan kebebasan, pendedahan keberagaman, juga kemerdekaan untuk mencari
sendiri-sendiri apa yang benar, tanpa harus menindas atau mengerangkeng satu sama
lain.
Thus, obyek
kritik Iqbal tidak hanya final menargetkan Habermas, melainkan juga—dan ini
barangkali yang terpenting—menyasar subyek tulisannya sendiri: Komunitas Jalan
Roda per se. Terutama bagi para ‘partisipan ilusif’ yang datang ke Jarod
sekadar untuk “meluangkan waktu” atau mengisi kekosongan diri dengan kopi,
dengan canda, dengan ‘pendo’ dan ‘pemay’, tanpa semangat emansipasi sedikitpun.
Memang, bagi para pelaku komunitas diskusi, hidup tak pernah serius di Jarod
sana. Tapi bagi Iqbal, seharusnya ada hal-hal yang perlu diusung bersama-sama
sebagai sebuah ‘kepentingan publik’ (yang bukan opini ‘politik’ publik jangka
pendek) tinimbang sekadar memperlihatkan kemalasan kolektif atau banalitas yang
itu-itu saja.
Sepanjang
pembacaan terhadap Iqbal, memang serasa perlu merumuskan ‘ruang’ dalam ruang
Jarod yang telah ada. Bukan ruang dalam arti fakultas, komisi, ataupun
faksi-faksi dalam bentangan linear yang sibuk dengan monolognya masing-masing,
tapi lebih kepada ruang yang merupakan campuran ‘kopi stenga’ dan setengahnya
lagi pemikiran Habermas. Sehingga ketika kita membayangkan arwah Habermas
kebetulan singgah di Jarod, ‘Komunitas Jalan Roda’ akan sekonyong-konyong
menertawakannya. Bukan hanya karena Jarod an sich berada di luar
imajinarium Habermasian, tetapi juga karena Jarod—dengan segala tetek-bengek perayaan
di dalamnya—bisa menjadi episentrum kesadaran publik untuk menumbuhkan
soliditas dan solidaritas yang terarah pada perubahan.
Barangkali
hanya dengan itu, Jarod bisa terselamatkan dari slogan pece “DPRD
tingkat III” yang retoris populis wal munafiqun keborjuis-borjuisan.
Dan barangkali dengan termanifestasinya ‘Jarod ideal’ semacam itu, budayawan
seperti Reiner Ointoe akan berhenti menebarkan ayat-ayat selentingan ihwal
kemufakatan semu: “There is no Jarod today—tidak ada Jarod hari ini.”
Utopiskah ini?

0 Comments