Coffee Culture : Sehitam Jelaga dan Rasa yang Tak Biasa


Keriuhan obrolan khas rumah kopi yang terjadi setiap hari di Kawasan Jarod menjadi pemandangan sehari-hari. Jarod menjadi pusaran isu-isu lokal dan menjadi perbincangan di setiap kedai kopi lain. Selain itu tempat ini menjadi komunitas bersama dan tempat berkumpulnya para aktivis, politisi, jurnalis, makelar, pekerja sosial, agamawan maupun warga umum. Tidak jarang, dari tempat ini pula isu-isu lokal berkembang dan sampai ke wilayah-wilayah pinggiran kota. Tidak hanya itu, warga yang berada di Jarod umumnya adalah mereka yang terlibat dalam kegiatan sosial, politik serta keagamaan di tingkat lokal.

 

Ada satu kesamaan yang mungkin bisa menyatukan seluruh kota-kota di dunia, tempat dimana koneksi terjalin sejalan dengan arus informasi. Rumah kopi atau kedai kopi menjadi bagian tak terpisahkan dari kota-kota berkembang dewasa ini; Jakarta, Singapura, New York atau Paris pasti memiliki kedai kopi, baik gerai-gerai merek terkenal yang menjamur di pojok-pojok mall maupun kedai kopi lokal yang dikelola secara tradisional. Merek-merek ternama semacam Starbucks atau kedai kopi excellso dengan mudah dijumpai di beberapa tempat seperti mall dan pusat keramaian kota. Kopi dan kedai  kopi menjadi semacam gaya hidup orang kota; menyeruput minuman hitam pekat dengan uap panas ditemani dengan perbincangan-perbincangan khas perkotaan; harga barang yang semakin naik, indeks saham di pasar  modal, skandal politik, kondisi terkini pemerintahan, harga minyak yang terus naik, kelangkaan pangan, hingga musik yang sedang populer, model baju, tren rambut, berita tentang peluncuran perangkat pintar yang paling canggih hingga film terbaru yang sedang diputar di bioskop-bioskop besar.

Saya sering melihat perbincangan seperti itu setiap hari di komuntas Jalan Roda, salah satu rumah kopi “bersejarah” di Manado. Sejak pagi hari ada ratusan orang dengan ratusan topik dan perbincangan hadir di komunitas ini; carut marut politik lokal, kebijakan pemerintah setempat, kondisi pasar tradisional yang terus terancam oleh keberadaan pasar modern hingga topik-topik nasional yang menjadi tren media bahkan kasus terbaru selebritis yang sedang menjadi perbincangan umum di masyarakat. Seperti kebanyakan rumah kopi yang saya jumpai, ada ide berseliweran di tengah-tengah kepulan asap rokok dan uap panas kopi. Komunitas Jalan Roda menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan kota Manado.

Selama bertahun-tahun saya menyaksikan begitu banyak rumah kopi tumbuh dan berkembang di tengah arus perkembangan dan pembangunan kota serta lancarnya produk global masuk ke kota ini. Orang Manado termasuk orang yang terbuka dan mudah menerima hal-hal baru yan datang dari luar. Ada beberapa Rumah kopi tradisional yang sudah cukup lama berdiri di Manado, selain kompleks komunitas Jalan Roda. Saya bisa menyebut diantaranya “Rumah Kopi Tikala”. Sama seperti Jalan Roda, rumah kopi Tikala juga menjadi tempat berkumpul orang-orang dari berbagai latar belakang dan mendiskusikan berbagai hal. Saya pertama kali mengunjungi tempat ini waktu usia sekolah, bersama orang tua saya. Kebanyakan pengunjung di tempat ini adalah para lelaki dengan berbagai latar belakang profesi dan aktivitas. Letaknya juga termasuk strategis, berada di Jalan Sudirman, yang merupakan jalur dua arah menuju pusat kota dan bandara Sam Ratulangi. Meski banyak bermunculan kedai kopi baru, termasuk gerai kopi terkenal dan lebih modern, tapi Rumah kopi Tikala tidak pernah kehilangan daya tarik bagi pelanggannya. Dua hal yang membedakan antara rumah kopi tradisional semacam Jalan Roda dan Rumah Kopi Tikala sejauh pandangan saya adalah, obrolan dan diskusi yang menjadi tradisi rumah Kopi Jalan Roda dan Tikala.

Para aktivis dan media lokal menyebut Kawasan Jarod sebagai “DPRD Tingkat III”. Bukan tanpa alasan. Sebagai tempat bertemunya masyarakat dari berbagai lapisan, latar belakang pendidikan, profesi, usia maupun agama dan suku, Jarod menjadi tempat yang tepat untuk bertukar ide, informasi, gagasan atau sekedar bertukar cerita, dan dalam banyak hal, sebagian besar pengunjung dan “aktivis” Jarod adalah mereka yang memang tertarik untuk membahas persoalan lokal, seperti politik, pemerintahan, kebijakan dan beberapa peristiwa yang sedang dibicarakan masyarakat secara umum. Jarod bagi sebagian besar warga Manado yang saya kenal, menjadi tempat yang pas untuk mencari informasi lokal.

Jarod hari ini tidak jauh berbeda dengan kondisinya ketika saya mengenal tempat ini waktu usia sekolah dulu. Tempat ini hanya berupa gang atau jalan sempit yang terhimpit diantara puluhan toko-toko yang terletak di jantung kota Manado. Orang Manado menyebut kompleks ini sebagai “Shopping Center”. Di wilayah ini, terdapat sebuah bangunan tua yang cukup besar, dengan dinding-dinding lembab yang sudah tak terurus, bau, berdebu dan keropos di beberapa sudut. Gedung ini yang menjadi pusat bisnis untuk warga kota, terutama bagi mereka yang berasal dari kalangan ekonomi menengah kebawah. Di dalamnya terdapat ratusan kios-kios dengan ratusan jenis barang dagangan; toko buku dan peralatan kantor, tempat makan, perlengkapan sekolah, pakaian, perlengkapan ibadah hingga tukang jahit yang jumlahnya tidak sedikit. “Shopping Center” Manado menjadi semacam toko kelontong raksasa, kita bisa menemukan barang-barang yang kita cari dengan harga yang lebih murah dibandingkan supermarket.

Ratusan toko-toko kecil mengitari di sekeliling Shoping Center. toko barang elektronik, toko pakaian dan perlengkapan ibadah, warung-warung kecil, penjual pulsa, pedagang batu akik, toko sepatu dan beberapa kantor bank. Bangunan-bangunan yang jumlahnya ratusan itu berjejer di pusat ekonomi ini. Pedagang asongan yang berjejer di depan setiap toko juga menjadi pemandangan khas di kompleks ini. Sepanjang trotoar berjejer kios berukuran setinggi dada orang dewasa yang menawarkan servis jam tangan, serta ibu-ibu separuh baya menawarkan jual-beli emas.

Diantara ratusan bangunan tersebut, ada satu gang sempit dimana berjejer kedai-kedai kopi tradisional, kompleks dimana tradisi minum kopi dan berdiskusi terjaga turun temurun selama puluhan tahun. Di tempat inilah orang akan dengana mudah menemukannya; Kawasan Jarod.

Saya pernah bertanya kepada beberapa warga kota yang sudah cukup lama mengunjungi Jarod atau mencari informasi di internet tentang awal mula terbentuknya kompleks yang kini disebut Jarod. Jalan Roda sudah ada sejak jaman penjajahan Belanda, jauh sebelum tercetusnya Perang Dunia I dan II. Menurut penuturan beberapa orang tua yang saya temui pada suatu suatu siang di pertengahan tahun 2014, alat transportasi untuk datang ke kota ini pada zaman itu satu-satunya adalah gerobak yang ditarik oleh sapi atau kuda. Orang lokal di Manado menyebut gerobak dengan istilah “Roda”. Makanya jangan heran, ketika gerobak bakso, pedagang buah atau kendaraan yang ditarik hewan, juga akan disebut roda oleh warga Manado.

Pada masa itu, gerobak (roda) itu datang dari desa desa di Minahasa, baik dari arah Tomohon, Tonsea, Tanahwangko, Wori,  yang kemudian berkumpul di jalan yang kini disebut Kawasan Jalan Roda, karena fungsinya pada saat itu menjadi semacam stasiun bagi gerobak-gerobak atau roda-roda tersebut.

Fungsinya sebagai tempat peristirahatan dan tempat persinggahan para warga pada saat itu, Jarod mempertemukan warga dari berbagai wilayah yang terhubung dengan Manado. Untuk alasan ekonomi, orang-orang berkumpul disini pun mulai terlibat percakapan dan perbincangan, sekedar mengisi waktu kosong, dengan berbagai topik. Makin hari semakin ramai tempat ini, dan beberapa orang kemudian melihat ada peluang ekonomi yang cukup baik; membangun rumah kopi.

Keberadaan rumah kopi menjadi bagian dari “Jalan Roda”. Namun kondisi “Jarod” pada saat itu terbilang cukup sederhana. “Tempat ini belum memiliki kanopi seperti saat sekarang ini. Kita hanya menggunakan terpal untuk menghindari panas terik atau hujan”, tutur Hani, orang tua berusia kurang lebih 60 tahun yang telah membuka kedai di Jarod sejak tahun 80an.

Hanya beratapkan tenda-tenda plastik yang didirikan sepanjang gang sempit tersebut, Hani menggelar dagangan berupa kopi serta beberapa makanan kecil. Jika hujan, tempat ini menjadi tidak begitu nyaman. Jalan di sepanjang gang ini pun belum diperbaiki.

Pemandangan Jarod hari ini berubah sangat drastis. Kini tak ada lagi layar-layar biru, digantikan oleh kanopi yang berjejer rapi. Meskipun dibuat begitu sederhana, dibuatnya kanopi itu membuat keadaan disini jadi lebih begitu teratur dan nyaman; tak terlalu panas dan jika hujan tiba tak perlu khawatir basah atau terkena cipratan air. Meski tak banyak sentuhan modern, bagi saya dan mungkin sebagian besar warga yang mengenal Jarod, tempat ini memiliki daya tariknya tersendiri. Bagi orang yang belum mengenal Jarod atau bahkan yang baru pertama kali melihat tempat ini, ada sedikit rasa ngeri, mungkin terlintas di benak mereka bahwa tempat ini sudah begitu memprihatinkan. Ratusan orang menumpuk di gang sempit sepanjang hari terik, kepulan asap rokok, bau mulut para makelar, keringat para pedagang kaki lima bercampur baur dengan aroma parfum yang tercium dari pakaian dan badan para pegawai kantoran yang setiap hari mampir untuk sarapan atau pun makan siang di tempat ini. Gambaran ini tidak begitu nyaman bagi mereka yang belum mengunjungi Jarod. Tapi dibalik kesannya yang tidak begitu nyaman, disitulah tersimpan daya tarik Jarod. Toh, sampai hari ini Jarod masih tetap bertahan di tengah-tengah menjamurnya kedai kopi di Manado.

Bagi saya, apa yang membuat Jarod bisa bertahan dari serbuan franchise kedai kopi, karena Jarod memiliki ciri khas tersendiri yang tak mungkin di temukan di rumah-rumah kopi lain, bahkan sekelas Starbucks, Maxx Coffe atau Excelso. Bagi mereka yang mengenal Jarod cukup lama, tentu tahu bahwa tradisi diskusi di Jarod adalah hal yang sulit ditemukan tandingannya di rumah kopi lain. Kita bisa dengan mudah terlibat dalam diskusi-diskusi dengan topik tertentu di setiap kedai. Diskusi yang membuat Jarod memiliki jiwa tersendiri, yang terus berdenyut di tengah hiruk pikuk keramaian Manado.

Tampilan fisik tempat ini tampak tua, seolah berasal dari masa lalu. Tiang-tiang yang menyangga kanopi Jarod terdiri dari kayu-kayu yang menjulang tinggi dan tertutup seng. Posisi atap seng yang dibuat berselang seling antara yang satu dengan yang lain dengan posisi agak tinggi dan agak rendah satu sama lain, memungkinkan udara keluar-masuk dan mengurangi sedikit rasa panas dan gerah akibat asap rokok atau uap panas dari tungku  kopi. Tiang-tiang penyangga kanopi terlihat sudah cukup kusam, dengan cat yang luntur dan beberapa sudut yang terkelupas. Diantara tiang-tiang tersebut, ada beberapa yang dijadikan tempat memajang baliho iklan rokok, spanduk kandidat kepala daerah atau produk makanan dan minuman ringan. Sementara dinding-dinding di gang ini tampak sudah begitu tua. Kedai ini tampak muram. Karena terletak diantara bangunan-bangunan tua, kesan klasik tampak di beberapa bagian Jarod yang memang menyatu dengan dinding toko-toko sepanjang kompleks ini. Dinding-dinding ini pula menjadi media kampanye gratis pada masa-masa pemilihan umum legislatif maupun kepala daerah. Dinding-dinding sepanjang Jarod dipenuhi ratusan stiker-stiker dan banner kecil para kandidat calon legislatif dan kepala daerah. Tempat ini gaduh. Tapi seperti sepatu tua, Jarod selalu terasa nyaman. Setiap orang punya alasan untuk duduk berjam-jam lamanya di tempat ini.

Kita bisa bayangkan, di tengah terik matahari, uap panas dari atap seng menembus ke lorong-lorong kedai kopi Jarod. Dan didalamnya, sebagaimana yang akan anda temui ketika berkunjung kesana, bertumpuk ratusan manusia, lautan keringat dan kegerahan yang tak terbendung. Saya sendiri yang sudah bertahun-tahun “nongkrong” di tempat ini, tetap saja merasakan penat dan kegerahan akibat meningkatnya suhu panas yang masuk menembus atap seng terutama saat siang hari. Saat yang paling gerah mungkin adalah saat jam istirahat makan siang, ketika para karyawan Bank, PNS, wartawan, serta buruh dan pedagang menyesaki tempat ini untuk makan siang. Tempat ini banjir manusia, kebisingan yang terdengar berasal dari perbincangan serta celotehan para pengunjung dan penjaga kedai.

Pada saaat jam-jam seperti ini ratusan orang lalu lalang, mencari tempat makan. Ada cita rasa “rumahan” di tempat ini, terutama untuk urusan kuliner. Makanan atau jajanan yang dijual oleh kios-kios serta kedai kopi di Jarod sebagian besar adalah hidangan tradisional. Jajanan kue tradisional dengan mudah ditemui di Kawasan ini, yang biasa dikenal dengan sebutan “kukis kampung” atau jajanan khas kampung. Adapun makanan yang disediakan adalah makanan “rumahan” standar; ikan dan sayur yang diolah dengan bumbu tradisional. Terbukti, meski banyak tempat makan yang lebih “mewah” dan berkelas, banyak orang yang berasal dari kalangan PNS, karyawan bank, pegawai swasta, buruh, lebih tertarik dengan makanan tradisional khas Jarod dengan cita rasa lokal Manado yang identik, dan tentu saja dengan harga yang lebih dapat dijangkau.

Aktivitas di Jarod biasanya dimulai pada pagi hari, sekitar pukul 6 atau 7. Pada jam-jam seperti ini biasanya adalah pengunjung tetap yang sudah berlangganan sejak lama dengan kedai-kedai di Jarod. Mereka yang datang ke Jarod pada jam-jam seperti ini pada umumnya mereka yang selesai berolah raga pagi dan beristirahat untuk menikmati sarapan, teh hangat, kopi serta kue tradisional khas kota Manado. Beberapa pengunjung laki-laki dewasa sering tampak masih mengenakan sarung dan peci, karena biasanya selesai melaksanakan sholat Subuh. Beberapa diantara orang-orang ini biasanya adalah Imam Masjid di kampung-kampung terdekat dengan Jarod. Mereka pada umumnya adalah pedagang yang beraktivitas di pasar 45 Manado. Selain itu, ada juga para pedagang yang setiap pagi beraktivitas di pasar Bersehati, kompleks pasar tradisional yang sudah berumur cukup tua di kota Manado. Jarod menjadi pilihan ketika mereka ingin menikmati  sarapan, baik sebelum memulai aktivitas atau setelah beraktivitas pada pagi hari. Pada jam-jam ini Jarod akan tampak lengang, belum banyak kedai kopi dan rumah makan yang buka. Pengunjung yang datang pun masih terhitung sedikit jika dibandingkan pada jam-jam padat perkantoran dan aktivitas pasar.

Saat hari mulai masuk pada jam-jam kantoran, sekitar pukul 10 pagi keadaan mulai tampak ramai di Jarod. Ketika kita datang ke Jarod pada jam-jam seperti ini keramaian akan tampak sejak gerbang masuk ke dalam kompleks Jarod. Di halaman parkir akan tampak ratusan motor yang berjejal berdesakan di depan toko-toko yang berjejer di sekitar kompleks Jarod. Motor ini kebanyakan adalah milik para pengunjung Jarod, juga ada kendaraan milik para pekerja dan buruh toko serta pedagang di sekitar kompleks ini. Ketika memasuki kompleks Jarod, kita akan disambut oleh Gerbang pintu masuk yang berupa Gapura dengan tulisan “Selamat Datang Di Komunitas Jalan Roda” serta slogan kota Manado “Kota Ekowisata”. Gapura ini dibangun atas inisiatif pemilik kedai dan pengunjung Jarod sebagai bagian dari upaya mempercantik wajah kawasan Jarod.

Aktivitas pada saat itu mulai tampak hidup dibandingkan pada pagi hari. Kedai-kedai sudah mulai ramai pengunjung, beberapa toko mesin yang kebetulan berada tepat di dalam kompleks depan Jarod pun mulai buka, sehingga tampak pengunjung yang mulai memadati kawasan ini. Suasana mulai tampak berisik, teriakan para pedagang, obrolan pengunjung atau bisingnya suara tukang parkir berbaur dengan bising kendaraan bermotor dan suara berisik lainnya dari toko mesin. Pada jam seperti ini juga udara terasa tidak terlalu membakar, matahari masih belum tinggi dan uap panas belum menembus masuk ke dalam gang. Meja-meja dan kursi-kursi kayu berbaris sepanjang gang Jarod, papan iklan tampak tergantung di sudut-sudut kedai kopi, iklan rokok, produk minuman energi, serta beberapa merek susu dan kopi lokal tampak mendominasi warna Jarod. Lantai sepanjang jalan di sini kini sudah dilapisi keramik, sehingga ada sedikit kesan “mewah” jika dibandingkan tahun-tahun sebelumnya ketika jalan ini masih merupakan jalanan kasar.

Selain kedai kopi dan rumah makan tradisional, kita bisa menemukan hal-hal menarik lainnya di sini. Di depan gerbang masuk Jarod, kita akan dengan mudah menjumpai kios-kios kecil, mungkin berukuran sekitar 2 atau 3 meter yang berdekatan dengan layanan yang beragam; reparasi kacamata, tempat servis jam tangan, pengrajin emas dan perak serta pengrajin batu akik. Pada saat tren batu akik lagi naik dan harga menjadi lebih tinggi dari sebelumnya, ratusan pedagang batu akik, baik yang memiliki kios maupun hanya memajang di atas meja kecil, semuanya berkumpul di Jarod. Hampir setiap hari saya melihat kerumunan orang, baik tua maupun muda, lelaki maupun perempuan dari beragam kelas sosial dan profesi, bertransaksi batu akik di sini. Pada hari-hari belakangan, ketika tren batu akik mulai meredup, beberapa pedagang akik dadakan mulai berkurang. Yang tersisa adalah para pedagang yang menetap di Jarod, sebagian memiliki kios kecil, yang lain hanya bermodalkan meja kecil sebagai tempat pajangan. Meski demikian, hampir setiap hari, meski tidak seramai ketika terjadi lonjakan harga batu akik, masih tampak beberapa pengunjung di kios pedagang batu akik Jarod.

Hampir setiap hari, paling tidak setiap kali datang ke Jarod, saya melihat pemandangan ini. Wajah Jarod yang saya kenal ibarat perempuan tua yang keriput dengan beberapa catatan tentang betapa berisik dan kusamnya tempat ini seperti benteng tua peninggalan perang. Jika tiba musim penghujan, pengunjung yang terperangkap di dalam tak bisa berbuat banyak; genangan air di sana sini, meja dan kursi yang hampir sepenuhya basah serta air cucuran yang jatuh dari atap membuat situasi menjadi tak begitu menyenangkan. Pengunjung melakukan sedikit trik untuk menghindari kondisi ini dengan berpindah tempat duduk di tempat yang cukup terlindungi. Musim hujan membuat suhu di Jarod sedikit berbeda, mejadi lebih hangat dibandingkan ketika matahari bersinar begitu terik di siang hari. Satu hal lagi yang membuat Jarod hidup adalah hiburan yang bisa kita temukan hampir di sepanjang lorong Jarod. Di depan gerbang masuk dalam hari-hari tertentu selama seminggu selalu diisi dengan musik dari pemain keyboar lokal dan penyanyi-penyanyi lokal dengan tembang lawas, yang menurut sebagian besar pengunjung kadang terasa mengganggu, dentuman musik yang terdengar dari speaker yang menghadap ke pengunjung mengharuskan mereka berbicara sedikit keras agar tidak hilang ditelan nyanyian para biduan setempat. Musisi Jalanan, para pengamen turut memberikan hiburan bagi pengunjung di kedai kopi. dalam sehari ada sekitar 4 atau 5 kelompok pengamen yang “konser” di Jarod, dengan ragam genre musik; reggae, musik lokal, pop, rok bahkan dangdut. Beberapa bahkan tampil dengan alat musik lengkap; gitar dan cajon, kotak yang terbuat dari kayu bersisi enam yang sering dijadikan drum oleh para pengamen jalanan. Bagi para musisi jalanan ini, Jarod merupakan lahan mata pencaharian yang cukup menjanjikan. Mereka bisa bolak-balik hingga 5 kali dalam sehari untuk pentas di sini. Pengamen disini tidak bisa disamakan dengan pengamen di Jakarta, misalnya, yang mengamen karena desakan ekonomi, terkadag justru meski tidak memiliki suara yang memadai dan lagu-lagu yang tak karuan, kehadiran mereka lebih sering menjadi bencana dari pada hiburan. Para pengamen di Jarod justru tampil dengan kemampuan terbaik; membawakan 2 atau 3 lagi yang dinyanyikan penuh hingga lirik terakhir dengan nada suara yang menghibur. Tidak hanya pengamen, beberapa kali saya menyaksikan kelompok paduan suara pemuda pernah tampil di Jarod dalam rangka mengumpulkan dana buat kegiatan lomba paduan suara di luar daerah. Kelompok itu terdiri dari sekitar 12 hingga 15 orang pemuda, berusia sekitar 15 hingga 20 tahun, sebagian besar laki-laki dan beberapa orang perempuan. Mereka membawaka lagu lokal berbahasa Minahasa, kemudian beberapa lagu lain berbahasa Inggris yang tidak saya kenal. Selama masa pengumpulan dana itu, hampir setiap hari kelompok paduan suara ini tampil di Jarod. Bagi anak-anak muda ini, para pengamen, biduan lokal, maupun remaja paduan suara, Jarod menyediakan ruang kreatifitas bagi siapa saja. Tidak pernah ada orang yang melarang pengamen atau pun paduan suara bernyanyi di sini, meskipun pada dasarnya musik tidak membantu mengurangi panas matahari  serta keringat, kehadiran para musisi jalanan ini cukup menghibur. Bahkan musik yang “asing” dan “aneh” sekalipun selalu memiliki tempat di Jarod. Seperti seorang anak muda yang memainkan apa yang dia sebut sebagai “beat box”, sejenis musik tanpa alat musik, begitu sang seniman menyebut jenis musiknya. Menenteng box speaker, microphone dan beberapa kabel colokan listrik, dia mengambil posisi yang pas; di tengah-tengah pengunjung. Setelah melakukan persiapan sekitar 3 menit, memasangkan peralatan dan menyambungkan listrik, musisi jalanan mulai menampilkan keahliannya. Bagi sebagian besar orang, terutama orang tua yang tak pernah mengenal apa yang disebut musik hip-hop, “beat box” tidak lebih dari sekedar suara-suara berisik tak jelas dan tak beraturan. Dengan menggunakan mulut, microphone yang ditutupi dengan handuk kecil, anak muda ini mulai mengeluarkan suara-suara aneh; bunyi ledakan kecil, berdesis seperti ular, suara korsleting listrik bahkan ada suara yang terdengar lebih seperti batuk berlendir seorang nenek tua dari pada “karya seni”. Saya tak tahu, apakah orang-orang yang tak memiliki pengetahuan tentang musik dan seni, ataukah memang jenis musik “beat Box” si anak muda ini memang tak pantas di tampilkan di Jarod. Satu yang pasti, setelah beberapa kali tampil dengan “penghasilan” yang cukup mengecewakan, hingga kini saya tak pernah melihat anak muda itu tampil lagi di Jarod. Si seniman mungkin berpikir, Jarod tak selalu ramah bagi setiap orang.

Apa yang membedakan Jarod dengan gerai kopi modern lainnya, selain tampilan fisik yang cukup ketinggalan zaman, ada hal lain; Jarod memiliki konteks sosialnya sendiri, tidak sekedar alasan ekonomis atau gaya hidup. Jarod hadir dalam konteks sosial-historis masyarakat Manado yang beragam dan terus berkembang. Jika gerai kopi semacam starbucks hadir di Manado untuk memenuhi hasrat akan gaya hidup modern masyarakat perkotaan, maka Jarod justru berkotribusi dalam proses sosial-politik di Manado. Jarod terlibat dalam proses politik lokal dalam rentang waktu yang sudah cukup lama. Banyak aktivis, pejabat birokrasi bahkan politisi lahir dan berkembang dari tempat ini. Isu-isu sosial, politik dan agama, berkembang dan didiskusikan di tempat ini. Itulah yang menjadi alasan kenapa Jarod disebut sebagai “DPRD Tingkat III”, satu tingkat di bawah DPRD Kabupaten kota. Jarod menjadi bagian dari politik dan demokrasi lokal.

Kopi, Jarod serta kebiasaan orang Manado untuk ngobrol dalam waktu yang lama, telah melahirkan Jarod dan tradisi minum kopi serta suguhan obrolan politik yang mengasyikkan di tempat ini. Setiap rumah kopi di Manado memang akan kita jumpai obrolan seputar politik  dan isu lokal lainnya. Tetapi ketika di Jarod, obrolan politik selalu lebih lengkap dan mendalam, selain karena melibatkan lebih banyak orang dengan latar belakang pemikiran dan profesi, Jarod juga menjadi tempat berkumpulnya para pekerja politik, aktivis, birokrat, pejabat, bahkan pedagang kaki lima yang memang sering terlibat dalam kerja-kerja politik. Bahkan sebagian besar mereka adalah aktivitas di sebuah organisasi. Tradisi “diskusi” di Jarod sudah berlangsung cukup lama. Orang-orang bisa ngobrol hampir sepanjang hari sambil menyeruput kopi dengan beragam cita rasa. Kopi dan politik seperti dua bagian yang tak dapat dipisahkan satu sama lain. Dalam sejarahnya, kopi memang terlibat dalam kontestasi, konflik dan akomodasi politik yang cukup panjang.

Saya menemukan sebuah artikel di website historia tentang sejarah dan konteks sosial kedai  kopi, awalnya orang-orang Eropa memperlakukan kopi sebagai bahan medis yang memberikan efek positif buat tubuh. Harganya mahal. Umumnya dikonsumsi masyarakat kelas atas. Namun memasuki tahun 1650-an, para penjaja minuman lemon di Italia mengikutsertakan kopi sebagai barang jualannya, sementara kedai-kedai kopi di Inggris bermunculan, minuman ini mulai menemukan dimensi sosialnya; dikonsumsi sembari berbincang-bincang. Hal ini yang hingga kini masih dapat dijumpai di rumah kopi mana pun di seluruh dunia.

Ketika mulai menemukan dimensi sosialnya, kopi bagi masyarakat Manado tak lagi sekadar minuman yang rutin dikonsumsi, tapi juga terlibat dalam banyak perubahan sosial-politik  di tingkatan lokal. Karena untuk pertama kalinya orang memiliki alasan untuk berkumpul di ruang publik tanpa melibatkan alkohol. Kegiatan ini pun berkembang menjadi rutinitas sosial yang bersifat politis dan sosial. Pada era ketika akses media massa belum secepat hari ini, berita tersebar dari mulut ke mulut di kedai-kedai kopi, melalui proses dialog dan obrolan antara sesama pengunjung. Dari sini juga kopi bahkan mewarnai kehidupan intelektual, para aktivis, politisi, akademisi, pekerja kantoran, buruh, jurnalis bahkan masyarakat dari berbagai lapisan dapat dengan leluasa mengemukakan pandangan dalam obrolan di rumah kopi Jarod.

Meskipun Jarod populer sebagai tempat para aktivis dan politisi, tapi secara kasar saya melihat ada 3 topik besar yang menjadi bagian dari rutinitas di Jarod, yaitu sebagai wilayah diskusi politik, agama dan transaksi dagang. 3 aspek inilah yang telah menghidupkan Jarod sampai hari ini. Jarod menjadi semacam ruang publik bagi 3 topik besar tersebut. Saya menyebut tiga hal tersebut sebagai “denyut” kehidupan di Jarod, tanpa ketiga hal tadi Jarod hanya akan sekedar menjadi rumah kopi tua, yang berakhir di tempat rongsokan seperti barang tak berguna lainnya. Isu politik, agama serta transaksi jual-beli yang terjadi di Jarod telah menarik minat tidak hanya warga lokal, bahkan pendatang dari luar daerah maupun luar negeri. Jarod ibarat toko kelontongan yang menjual berbagai hal di dalamnya; isu politik, skandal, ideologi, pertarungan kekuasaan dan posisi, hingga transaksi batu akik dan seliweran para SPG rokok dengan rok mini yang hampir setiap saat lalu lalang di kompleks ini.

Secara formal memang tidak ada pembagian kelompok di Jarod, orang bisa duduk di mana saja dengan siapa saja. Tapi ada semacam “kesepakatan” dan kebiasaan yang dipertahankan hingga sekarang, bahwa ada tempat-tempat atau kedai kopi tertentu yang diperuntukkan untuk para aktivis dan politisi, untuk diskusi agama serta tempat yang sebagian besar dijadikan tempat transaksi jual beli. Ini bukanlah bentuk “dikotomi” atau pembatasan di Jarod, tetapi merupakan kecenderungan masyarakat yang datang ke sini dengan ragam tujuan, meskipun memang pada dasarnya sebagian besar kedai kopi melibatkan obrolan politik lokal khas Jarod.

Bagian depan Jarod, dimana terdapat gerbang masuk, tempat yang agak sedikit lebar, terbuka menghadap Jalan, di sini biasanya sebagian besar adalah transaksi jual beli. Selain kedai kopi, pedagang dan pengrajin batu akik, beberapa pedagang pakaian dan makelar terlihat menawarkan barang dan bertransaksi langsung di meja kedai kopi. barang-barang yang ditawarkan dan dijual pun beragam; sertifikat bangunan rumah atau toko, sertifikat tanah, perkebunan, kendaraan bekas, alat elektronik, ponsel bekas, pakaian bekas (cabo, begitu orang  lokal menyebutnya), batu akik, obat kuat, minuman suplemen.

Diskusi dan debat agama biasanya ada di bagian belakang Jarod. Bagian ini tersambung dengan sebuah gang sempit menuju  kampung cina, yang juga biasa dijadikan akses masuk ke Jarod. Gang masuk ini terdapat gapura kecil, persis seperti gapura yang ada di gerban depan, hanya saja dengan ukuran yang lebih kecil disesuaikan dengan ukuran gang yang sempit. Tampak beberapa tempat makan tradisional berukuran kecil, dan satu-satunya rumah kopi di bagian belakang, kedai kopi Baba Budan. Kedai kopi ini tergolong masih baru, karena belum lama dibuka, pada tahun 2015. Tepat di depan belokan ke kanan, terdapat satu tempat yang merupakan tempat orang bermain catur dan halma. Kita akan melihat orang-orang ini setiap hari bermain catur di tempat ini. Saya tak pernah mencoba untuk bertanding disini, karena berdasarkan “rumor”,  bahwa pemain catur di Jarod terkenal sukar dikalahkan. Bersbelahan dengan tempat catur inilah berkumpul para “aktivis agama” yang selalu mendiskusikan tema-tema keagamaan dalam debat yang cukup “panas”. Beberapa orang di tempat ini merupakan penganut Syi’ah, dan sebagian lain terlibat cukup intens dalam beberapa organisasi keagamaan, juga beberapa orang pengikut Jama’ah Tabligh. Meski sering terlibat perdebatan panjang dan hangat, hubungan antar pengikut agama di tempat ini dapat dikatakan cukup baik. Dalam diskusi, biasanya terdengar sindiran dalam bentuk humor-humor, tapi hal ini dianggap sebagai sesuatu yang lumrah dan tak perlu ditanggapi dengan konflik.

Tentunya yang paling ramai di Jarod adalah diskusi-diskusi politik lokal, dan ini bagi saya hanya dapat ditemukan di rumah kopi “Hani”. Dinamakan sesuai dengan nama pemiliknya, “rumah kopi Hani” menjadi “kantor” bagi para politisi dan aktivis lokal. Meski secara umum, tema-tema politik dapat kita jumpai hampir di setiap kedai kopi di Jarod, tetapi diskusi dan isu-isu politik paling banyak terdengar dari kedai ini. Hal ini dapat dimaklumi, pengunjung di rumah kopi Hani kebanyakan memiliki latar belakang politik, birokrasi atau minimal terlibat dalam sebuah organisasi, meski pun sebagian pengunjung juga berprofesi sebagai pedagang dan buruh. Bahkan bagi orang yang tidak memiliki latar  belakang politik sekalipun akan dengan mudah terlibat dalam diskusi politik di sini. Awal mula saya terlibat dalam diskusi dan kerja-kerja politik pun bermula dari rumah kopi Hani. Pada mulanya hanya terlibat dalam obrolan biasa, kemudian mulai dilibatkan dalam wilayah kerja politik, seperti pilkada.

Saya bisa menyebut rumah kopi Hani sebagai pusat politik Jarod, tempat isu-isu lokal politik berkembang, didiskusikan dan diperdebatkan. Pelaku dalam setiap kontestasi dan pertarungan politik lokal Mando, adalah mereka yang setiap hari mendiskusikan persoalan daerah di Jarod. Di tempat inilah, kita akan berjumpa dengan puluhan wartawan cetak, elektronik maupun berita online yang setiap saat mengolah berita dari tempat ini, komisioner Komisi Pemilihan Umum, para pengacara, aktivis organisasi massa dan organisasi keagamaan, aktivis kampus dan organisasi pergerakan, pegusaha, pengurus partai, pengikut aliran agama tertentu, hakim, birokrat, pegawai negeri, buruh, dosen, dokter ahli otak, polisi, tukang parkir, loper Koran, semuanya berkumpul di sini dengan satu ketertarikan dan kecenderungan politik lokal yang sama. Dari pertemuan orang dengan latar belakang pendidikan dan profesi inilah lahir pembicaraan terkait isu politik tertentu, dari mereka pula kita dapat mengakses informasi tertentu bahkan sebelum informasi tersebut dimuat di media berita setempat.

Saya pernah mengajak beberapa kenalan dari Jakarta ke tempat ini, seorang Direktur pada Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat (PPIM) di Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta namanya Ismatu Ropi, seorang doktor lulusan luar negeri dan satunya adalah peneliti di lembaga tersebut, Dadi Darmadi, seorang doktor peneliti antropologi yang juga lulusan perguruan tinggi luar negeri. Pak Ismet dan Pak Dadi, begitu saya menyapa kedua dosen tersebut, melihat Jarod, terutama rumah kopi Hani begitu unik dan jarang dijumpai di daerah lain. Secara sosial, menurut pak Ismet, keberadaan Jarod merupakan cerminan karakter masyarakat Manado yang terbuka terhadap berbagai macam keragaman, entah  itu profesi, suku maupun agama. Siapa saja bisa diterima di Jarod, tanpa melihat keragaman latar belakang yang sifatnya sosial maupun politis. Dan satu hal yang penting, menurutnya adalah, keberadaan Jarod yang membaur orang dengan berbagai latar belakang dan kepentingan, secara tidak langsung berkontribusi dalam upaya menghapus batas-batas identitas individual sehingga semuanya dilibatkan sebagai warga kota yang harus setara.

Di Jarod, hubungan terjalin setara dan harmonis. Tak ada lagi batas agama, tak ada lagi beda antara kulit hitam dan putih, kaya dan miskin, birokrat dan pedagang kaki lima, semua warga yang terlibat dalam obrolan khas warung kopi Jarod dilibatkan sebagai individu yang setara. Sebagai sebuah ruang publik terbuka, keberadaan Jarod dapat dikatakan cukup berpengaruh dalam perkembangan isu lokal terkait poliltik dan pemerintahan. Dari rumah kopi Hani, orang mendiskusikan tentang pembangunan yang tak merata, pelayanan kesehatan yang buruk, kualitas pendidikan yang rendah, infrastruktur yang tidak memadai atau bahkan bantuan dana yang diberikan pada masyarakat sebagai bantuan bencana yang memang menjadi perdebatan masyarakat setempat. Dari Jarod lah kemudian lahir para politisi yang belakangan kemudian menduduki jabatan sebagai anggota legislatif, pimpinan partai atau birokrati pemerintahan. Dengan demikian, ada semacam “koneksi” tidak langsung antara Jarod dan pemerintahan, mengingat para anggota di Komunitas Jarod memiliki akses dengan lembaga eksekutif maupun legislatif, lewat para anggota dewan atau pejabat pemerintahan yang menjadi penghubung langsung untuk membawa aspirasi dari masyarakat bawah lewan partai atau pun lembaga semacam organisasi kemasyarakatan mau pun organisasi kemahasiswaan. Beberapa dari anggota dewan Kota maupun provinsi memang memiliki sejarah karir politik dengan Komunitas Jarod. Lewat keterlibatan dalam perhelatan politik lokal, beberapa anggota komunitas Jarod kemudian menapak karir sebagai anggota legislatif maupun birokrat pemerintahan, yang menjadi koneksi antara isu dan aspirasi yang muncul di Jarod dengan pemerintah daan perwakilan rakyat.

Jarod dianggap ruang publik yang tepat untuk mengolah isu, lokal maupun nasional, lewat serangkaian diskusi informal. Sering sekali Jarod dijadikan tempat melaksanakan diskusi-diskusi publik oleh organisasi keagaamaan maupun organisasi kemasyarakatan, bahkan instansi dan lembaga pemerintah. Jarod menjadi semacam corong untuk menyebarkan gagasan dan hasil diskusi ke tempat masing-masing, tempat di mana orang-orang dengan berbagai latar belakang berkumpul di Jarod. Seperti pada tahun 2015, ada beberapa diskusi publik yang diadakan di Jarod, seperti sosialisasi pangan dan obat yang dilaksanakan oleh BPOM, kajian terhadap pelayanan kesehatan yang dilakukan oleh lembaga pengawas kebijakan kesehatan, diskusi kepemudaan Himpunan Mahasiswa Islam, diskusi tentang isu kekerasan dan lain-lain. Jarod menjadi wadah orang memeperoleh pengetahuan informal yang disampaikan oleh orang-orang yang berkompeten di bidangnya masing-masing.

Sebagai orang Manado, saya bersyukur bahwa Jarod telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan orang Manado. Bagian yang terus tumbuh dan terlibat dalam proses demokrasi dan politik lokal. Dalam konteks kebijakan pemerintahan lokal, Jarod bagi para aktivis lokal menjadi “lembaga” informal untuk mengawasi kinerja pemerintah lewat kritikan dan diskusi serta kajian terhadap masalah hukum, birokrasi, pelayanan publik dan kebijakan yang bersentuhan langsung dengan kepentingan masyarakat kota Manado. Jarod menjadi penyeimbang pemerintah, suara Jarod diibaratkan sebagai representasi suara masyarakat kota Manado.

Nama besar Jarod sebagai pusat informasi politik lokal dikenal tidak hanya di kalangan orang Manado, tapi juga para pendatang yang pernah mengunjungi Manado, baik  luar kota maupun yang berasal dari mancanegara. Hampir setiap hari kita akan melihat beberapa wisatawan asing dari Negara lain mampir minum kopi dan makan di tempat ini. Cerita tentang Jarod disebarkan dari mulut ke mulut lewat narasi para pengunjung  yang pernah mencicipi nikmatnya kopi dan asiknya obrolan politik ala Jarod.

Ada semacam “tradisi” yang disepakati bersama di Komunitas Jarod, antara pengunjung dan pemilik kedai kopi. di Jarod, ada tradisi atau istilah untuk kopi yang disebut dengan “Kopi Stengah” oleh warga lokal Manado, yang Dalam bahasa Indonesia baku ini berarti “Kopi yang hanya separuh gelas atau setengah”. Siapa saja yang pernah mengunjungi Jarod tapi tak pernah mencicipi  “kopi stengah”, dia belum mengunjungi Jarod, begitu lelucon orang lokal. Bagi para penikmat kopi Jarod, ada cita rasa “khas” ketika menyeruput kopi stengah. Secara ekonomis, memang kopi stengah harganya lebih murah dibandingkan kopi gelas penuh. Tapi ini bukan sekedar soal harga, ini juga soal “kebiasaan”, tradisi serta cita rasa. Orang di sini biasa memesan Kopi Stengah hingga 3 sampai 4 kali dalam sekali minum, meskipun bisa saja mereka minum kopi gelas penuh 1 atau 2 kali. Tapi sekali lagi, kopi Jarod bukanlah soal harga, Jarod adalah cita rasa dan tradisi.

0 Comments