Kopi menawarkan
kita cara untuk melihat hubungan kita dengan dunia yang lebih besar dan melihat
bahwa terkadang pilihan kita sebenarnya bukan milik kita sendiri, untuk
memikirkan tentang bagaimana merek dan kekuatan pasar yang lebih besar dapat
membantu menciptakan apa yang tampak sebagai ikon stabil dalam hidup kita.
Di suatu sore yang hangat, saya berjalan menelusuri pinggiran kota Manado, memasuki kedai kopi baru yang terletak di persimpangan jalan, dimana terdapat puluhan bangunan tua berjejer membentuk bayang-bayang yang datang dari masa yang tidak jauh. Kedai kopi Sedjak, terletak hanya kurang dari 100 meter dari Jarod. Meskipun di luar sore hari yang cerah, Perabotan antik, kamera tua, telpon berusia puluhan tahun dan kursi kayu teronggok di setiap sudut kedai. Pencahayaan redup dan musik dari penyanyi tahun 80-an menciptakan suasana yang lembut dan hangat, Ada beberapa anak muda yang bekerja di depan laptop di meja kecil, sementara kelompok kecil mahasiswa mengobrol, kedai ini terasa sangat terpisah dari hiruk pikuk jalanan, yang dipenuhi dengan mobil dan orang-orang yang lewat, Tidak ada tekanan untuk tetap tinggal atau pergi.
Entah Anda suka minum kopi atau tidak, kemungkinan besar ada
kopi yang tersedia di dekatnya; di rumah, di tempat kerja, dan di setiap sudut
jalan, kedai kopi benar-benar ada di mana-mana. Seharusnya ini bukan kejutan
karena kopi adalah Minuman terpopuler kedua setelah air dan produk kedua yang
paling banyak digunakan setelah minyak. Memang, kopi adalah bagian normal dari
setiap sektor dalam masyarakat kita, dan betapa pentingnya peran itu, adalah
sesuatu yang akan segera kita pahami.
Kebanyakan orang tidak dapat membayangkan memulai hari
mereka tanpa secangkir kopi. Rata-rata, kita biasa selalu memulai hari dengan
secangkir kopi bersama pasangan atau dengan seluruh keluarga. Minum bersama
saat makan atau saat membaca berita pagi di ponsel cerdas, kopi adalah pilihan
pertama bagi banyak orang untuk memulai rutinitas dengan santai dan bersiap
menghadapi hari yang panjang.
Kopi juga menjadi saksi dari banyak hubungan yang telah
dibangun. Teman, pasangan, tim, organisasi dan sejenisnya tidak pernah
melewatkan sesi "coffee break". Ledakan kedai kopi yang tidak
pernah berhenti di setiap jalan di seluruh dunia adalah bukti bahwa semakin
banyak orang merasa nyaman tinggal di tempat mereka "untuk berbicara,
menangis, tertawa, menikmati, bersantai, menyelesaikan masalah, atau sekadar
sementara waktu menyendiri Singkatnya, kopi ternyata merupakan sarana bagi
orang untuk merasa nyaman berhubungan dengan orang lain.
Terlepas dari sifat bisnis mereka, sebagian besar tempat
usaha memiliki mesin kopi atau kedai kopi sederhana di dalamnya. Kopi tidak
diragukan lagi adalah bagian dari setiap pertemuan bisnis yang penting, apakah
itu di antara para petinggi perusahaan atau hanya beberapa pekerja yang sedang
istirahat.
Pukul 10 di suatu pagi, matahari mulai menerobos atap,
melepaskan hawa panas bagi ratusan pengunjung Jarod yang berada di bawah Kanopi
seng yang ditopang kayu-kayu tua dan kerangka besi berkarat. Kanopi yang
menaungi Jarod sudah direnovasi beberapa kali. Terakhir, kanopi menjadi masalah
tersendiri; karena rancangannya terlalu tertutup, memerangkap hawa panas di
bawahnya. Akibatnya, Jarod menjadi terlalu panas meski hari masih terlalu pagi.
Apakah anda berpikir ini kondisi yang tidak menyenangkan bagi pengunjung? Tentu
saja. Tapi, pengunjung membludak antara jam 7 hingga 10 pagi. Ini bahkan bisa
berlangsung hingga jam makan siang. Setiap orang akan menikmati kopi, bahkan
dalam cuaca panas sekalipun, di sela-sela asap rokok, panas dari mesin
pemanggang dan keriuhan percakapan.
Di Jarod, kita terkoneksi, dengan orang lain juga dengan
masa lalu. Jarod bukan lagi sekedar menyeruput kopi yang dapat anda nikmati
dengan panganan atau gorengan. Kopi bahkan lebih dari sekedar kopi. Anda bisa
melihatnya di Jarod. Beberapa kedai memungkinkan orang duduk dengan nyaman,
bahkan dengan penyejuk ruangan. Ini jadi alasan orang duduk berlama-lama di
kedai, selain tentu saja adalah wi-fi. Tapi Ketika seseorang mengajak Anda
duduk dalam satu meja untuk minum kopi di Jarod, itu dapat berarti pertemuan
singkat atau obrolan satu atau dua jam. Menikmati kopi di Jarod bisa jadi murni
sosial, bisa juga tentang bisnis, politik atau bagaimana kita tetap terhubung
dengan orang lain. Ketika saya duduk dan menikmati kopi di Jarod, saya dapat
melihat orang-orang mendiskusikan kekuatan dan kelemahan mereka di mana-mana,
sementara kopi mereka mulai menjadi dingin. Sekali lagi, Jarod tidak sekedar
kopi; ini tentang bagaimana anda terkoneksi dan bertukar cerita dengan orang
lain.
Saya senang bisa kembali ke Jarod, pada suatu hari yang
hangat di bulan Juli, menyeruput kopi stenga, sambil mengerjakan pekerjaan
di laptop dan berbicara dengan seorang kenalan lama. Ini adalah pertama kalinya
saya Kembali ke Jarod sejak pandemik dimulai pada akhir Maret di Manado dan kedai
Hani mulai melayani pelanggan dalam jumlah terbatas. Saya dan pelanggan lainnya
duduk di meja kecil di Kedai Hani, yang sebagian besar memakai masker meskipun
cuaca panas. Area tempat duduk di kedai Hani mulai dibatasi, yang menjadi
indikasi lain bagaimana pandemi telah mengubah lanskap kedai Jarod. Semenjak
pandemic covid-19 sampai di Manado, hari-hari bersantai di kursi atau meja di
dalam kedai Jarod, menggeser layer ponsel atau ngobrol dengan beberapa orang,
tampaknya menjadi sesuatu yang berasal dari masa lalu, setidaknya untuk saat
ini.
Semua kedai kopi di lokal di Manado, Seperti Jarod, telah melakukan
banyak tindakan pencegahan dan panduan kesehatan untuk melindungi pekerja dan
pelanggan dari COVID-19. Kebijakan keselamatan mereka termasuk mewajibkan karyawan
dan pelanggan untuk mengenakan masker/penutup wajah di dalam kedai, menjaga
jarak secara fisik dan mencuci tangan. Karena pembatasan telah dicabut,
beberapa kedai kopi tetap ditutup sementara Jarod telah dibuka kembali.
Siang Ketika saya tiba di Jarod, seorang pekerja di Jarod mengeluarkan
meja dan sekitar 10 kursi untuk memberi ruang bagi pengunjung untuk menikmati
kopi dan menjaga jarak satu sama lain. Saya sudah berusaha agar tetap patuh
dengan panduan kesehatan. Tapi seperti yang anda lihat, pengunjung merasa harus
terhubung satu sama lain ketika duduk di Jarod. Kita tidak memiliki otoritas
apapun mengatur itu. Jarod seperti ruang Bersama, hanya kesepakatan yang bisa
mengatur bagaimana publik berperilakuk di Jarod, menjadi seperti “tempat
ketiga” yang berada antara ruang publik dan ruang privat.
Selama beberapa dekade, para sarjana dan penulis terobsesi
dengan gagasan tentang "tempat ketiga", istilah sosiologis yang
diciptakan oleh sosiolog Ray Oldenburg dalam bukunya tahun 1989 The Great
Good Place untuk menggambarkan pengaturan sosial yang terpisah dari rumah
kita (yaitu, tempat pertama) dan kantor
(tempat kedua). Penghormatan Oldenburg untuk tempat ketiga - yang meliputi
kedai kopi, gereja, perpustakaan, dan toko buku - tidak pernah diragukan. “Jika
tidak ada tempat netral di lingkungan tempat tinggal orang, pergaulan di luar
rumah akan menjadi miskin”, tulisnya. “Banyak, mungkin sebagian besar, tetangga
tidak akan pernah bertemu, apalagi bergaul, karena tidak ada tempat bagi mereka
untuk melakukannya”.
Kedai kopi dahulu – dan hingga sekarang terus menjadi -
tempat orang berkumpul untuk berbicara, menulis, membaca, menghibur satu sama
lain atau menghabiskan waktu. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa kita
menggunakan percakapan ringan untuk membangun dan memelihara koneksi kita dalam
kelompok, serta untuk transfer informasi belaka. Jadi, dengan menyediakan ruang
untuk interaksi yang teratur tetapi tidak terencana dengan anggota komunitas,
kedai kopi seperti Jarod dapat berperan dalam menciptakan jejaring sosial dan
karenanya mendorong nilai-nilai komunitas.
Jarod, sebagai tempat pertemuan, membantu memfasilitasi
penyebaran informasi. Ini terjadi secara informal, sebagai akibat dari
sosialisasi, dan dalam beberapa kasus, melalui selembaran dan poster yang
ditempel di sepanjang gang. Ketika informasi melewati jaringan sosial, individu
dalam komunitas saling mempengaruhi. Perilaku dan norma yang kemudian diadopsi
merupakan cerminan dari interaksi yang berkelanjutan dan kognisi kolektif ini.
Di banyak negara, aspek sosial dari kedai kopi telah
berkembang menjadi rumah, di mana individu akan menjadi tuan rumah kopi pagi bagi
teman dan atau keluarga untuk bercakap-cakap. Satu studi menunjukkan bahwa dari
waktu ke waktu, isolasi sosial dapat dikaitkan dengan fungsi kognitif yang
lebih buruk pada orang dewasa yang lebih tua, dan studi lain menemukan bahwa
menawarkan kopi dapat mendorong peningkatan interaksi sosial, oleh karena itu
beberapa mungkin mengambil manfaat dari cara-cara semacam itu.
Kopi adalah minuman yang biasa dikonsumsi di tempat kerja
dan dapat dianggap sebagai bagian integral dari budaya tempat kerja. Di tempat
kerja, serta di arena sosial lainnya, ungkapan "ayo kita minum kopi"
sering kali identik dengan "ayo bercakap-cakap".
Selain itu, rehat kopi menawarkan momen 'waktu istirahat' di
tempat kerja. Meskipun penelitian lebih lanjut diperlukan, satu studi tentang
pekerja publik di Denmark yang menjalani merger skala besar menemukan bahwa
stres pekerja dapat diredakan dengan membentuk "komunitas" selama
rehat kopi dengan rekan kerja. Komunitas ini memungkinkan interaksi sosial dengan
sesama karyawan, memungkinkan mereka untuk berbagi pendapat profesional dan kondisi
frustrasi pribadi dengan pekerjaan mereka.
Jarod dan Kopi memiliki makna sosial yang lebih besar
daripada sekedar minum. Sebuah tempat di mana garis antara ranah publik dan
kehidupan privat dikaburkan, menciptakan ruang fleksibel yang pada saat
bersamaan tunduk pada norma sosial. Jarod adalah tempat untuk berkencan,
wawancara, hang out dengan teman, menggunakan internet, membaca buku,
makan siang, bertemu orang baru dan banyak lagi. Meskipun kedai kopi di Manado
dapat memfasilitasi ruang publik seperti yang digambarkan Habermas, Jarod jauh
melampaui karakteristik ruang publik tersebut. Memang, beberapa orang
menggunakan kedai kopi sebagai cara untuk berada di sekitar orang tanpa perlu
berinteraksi dengan mereka pada tingkat pribadi, tetapi kedai kopi Jarod
digunakan pada tingkat yang sama, jika tidak dikatakan lebih besar, bagi mereka
yang ingin terlibat lebih dalam dan terhubung lebih jauh dalam ikatan komunitas
Jarod yang sejajar dengan teman dan keluarga mereka. Pelanggan yang lebih lama
khususnya mengembangkan jaringan dukungan sosial di tempat ketiga seperti kedai
kopi. Di luar pelanggan lama, pendatang baru di komunitas Jarod dan orang yang
baru lewat lebih bergantung pada cita rasa kopi secara umum daripada pelanggan
yang memiliki hubungan lama dengan komunitas Jarod. Namun demikian, ini tidak
berarti bahwa kedai kopi lain tidak menjadi bagian dari kehidupan sosial yang
sudah mapan, melainkan bahwa para pelanggan memberikan bobot yang berbeda pada
pentingnya jejaring sosial tersebut.
Jarod dan kopi juga lebih dari sekedar minuman. Chermelle
Edwards dari The Guardian menantang persepsi bahwa budaya kopi adalah
budaya tentang Starbucks, ketika gelombang ketiga kopi sebenarnya berbicara
tentang membeli kopi berdasarkan dari mana asalnya dan didasarkan pada pengalaman
sosial minum kopi. Kopi mewakili kebersamaan; tidak hanya di antara teman
tetapi juga di antara orang asing yang menjadi teman. Ini adalah agen pengikat
dan makanan yang menenangkan bagi jiwa. Ini juga mencerminkan perilaku sosial
yang sesuai dengan harapan kedai kopi, yang menghargai konsumsi kelas menengah,
bentuk interaksi dan harapan untuk layanan. Setiap publik yang terbentuk di
dalam masing-masing kedai kopi, khususnya seperti yang anda bisa lihat di
Jarod, merepresentasikan kelas sosial dan dinamika para patron, yang terlibat
dalam interaksi yang menghubungkan mereka dengan budaya kopi yang lebih luas.
Kedai kopi hari ini, berbeda dengan Jarod, tidak sesuai
dengan konsep tempat ketiga yang ditawarkan Oldenburg (1989). Alih-alih menjadi
tempat yang netral dan sepenuhnya terbuka, kedai kopi adalah tempat reproduksi
ketidaksetaraan kelas. Meskipun tempat ketiga seharusnya dapat diakses oleh semua
orang dan berfungsi sebagai penyeimbang sosial, tempat-tempat ini tetap
eksklusif dan terbagi menurut garis kelas. Kedai kopi mengambil nama
"tempat ketiga" dan membentuk diri berdasarkan gagasan itu, namun
karena adanya perubahan makna dan penggunaan ruang publik dan privat, hasil
dari kedai kopi tempat ketiga itu berbeda dengan yang ada.
Konsep tempat ketiga, meski secara fundamental masih tentang
tempat antara rumah dan tempat kerja, telah dimodifikasi untuk memenuhi
kebutuhan penduduk kota kelas menengah. Model lama publik dan privat tidak lagi
sesuai dengan konteks kota, terutama dengan kebangkitan internet, dan sekarang
saatnya beralih ke gagasan ruang hibrida konsumen sebagai cara untuk memahami
kehidupan perkotaan.
Ditengah perebutan makna kedai kopi sebagai kanal penghubung
dan sarana interaksi, Jarod tetap bertahan dengan ciri khas “tempat ketiga”
Habermas, dimana Jarod mampu menjadi kanal informasi yang merepresentasikan
kesetaraan di satu sisi dan di sisi lain menjadi tempat bagi ikatan individu
dalam komunitas. Ketiga anda menikmati perbincangan di Jarod dan kopi anda
mulai dingin, saat itulah anda telah menjadi bagian dari komunitas yang diikat
oleh aroma kopi.

0 Comments